Surat Tapol kepada TKW, Cucunya

Oleh : Martin Aleida
Kompas, Minggu 21 Mei 2017

Febri yang baik, Pelupuk mataku hangat. Basah hidungku. Kau bilang aku tak peka. Engkau juga seperti menimpakan seluruh kesalahan ke pundakku yang tua ini. Karena dari 12.000 yang diasingkan selama sepuluh tahun di pulau pembuangan itu, tak ada yang becus untuk menghasilkan tulisan yang menggugah. Jangankan menggerakkan, Kau katakan, dan terasa seperti menghukumku. “Kakek, tahu enggak,” begitu kau menyindir. “Anne Frank cuma 13 tahun, tapi dia begitu menukik dan agung menghayati kecemasan, ketakutan, yang memenjarakannya di belakang lemari persembunyian, sampai ia digerebek dan dibinasakan. Sementara catatan hariannya, menjadi warisan dunia dan lambang kekuatan manusia dalam menghadapi penindasan yang membinasakan.”

DALAM surat terakhir, engkau kabarkan belum menonton film dokumenter tentang pulau di mana aku, dan ribuan lainnya, membikin aus otot, tulang, dan otak hanya untuk menghasilkan padi, sementara yang menikmati adalah tentara pengawal. Kau sebutkan ada temanmu yang sudah menyaksikan, namun dia datang membawa sebuah gugatan. Mengapa hanya dua tahanan yang muncul di layar? Di mana yang 12.000 lagi? Dan aku mati kutu ketika kau cecar, kau tekan terus, mengapa judul film yang semula begitu merangsang dan heroik tiba-tiba diganti dengan kata yang hambar, seakan-akan pulau penyiksaan itu sebuah surga lama yang baru ditemukan. Ada apa? Takut…? Menyensor diri sendiri? Hendak bermanis-manis dengan kekuasaan yang telah menistamu? Yang membuat kalian sampai pada kesimpulan bahwa hidup semata-mata untuk memikul siksa.

Aku tak mengerti, Feb. Dan aku cuma bisa bilang itu bukan citra getir pulau pembuangan dari beribu manusia yang dihinakan. Aku bersih dari prasangkamu. Aku tak terlibat. Apa pun yang ingin engkau katakan, ucapkanlah, namun ingat selalu, aku kakekmu.

Kuceritakan dalam catatan yang kutulis setelah aku pulang, bebas, bahwa kami, orang-orang rantai yang hina-dina, itu seperti muatan tak berharga dibongkar, dikeluarkan dari perut perahu, digiring satu-satu menginjakkan kaki di tebing Namlea yang berbau bakau. Penglihatanku menumbuk belantara. Tetapi, dengan lantang aku berteriak di dalam hati bahwa di pulau ini kami pasti akan mampu bertahan. Manusia bisa dikorbankan, tapi takkan mungkin dihancurkan!

Begitu kami menyeruak semak-semak dalam iringan kawalan bersenjata, terlihat sukun. Hatiku memekik. Daun-daunya hijau ramah melambai. Ada sarang lebah. Sarat menggantung penuh madu. Rendah pula. Terbayang, dan aku menelan liur pahit setelah berjalan berjam-jam dengan beban di pundak bahwa kami takkan kekurangan karbohidrat. Ada sukun. Buah yang di kampungku juga disebut roti belanda. Aduhai sedapnya roti yang empur itu dicelupkan atau dioles madu. Pulau pembuangan terasa seperti surga yang sedang hanyut dari langit ketujuh. Kau bayangkan betapa sukacitanya aku yang sudah bertahun-tahun tak mengenal buah segar. Di sepanjang rawa berjejer salak. Daunnya hijau pekat menjulur-julur ke angkasa.

Tetapi…. Ah, dasar tapol. Nasib yang lebih malang yang kami temukan. Pas dengan keinginan kekuasaan yang tak puas-puasnya merendahkan martabat kami. Ternyata yang kulihat itu bukan sukun, tetapi berembang yang kalau disantap bikin mabuk. Yang menggantung menggoda itu bukan sarang tawon, tetapi rayap. Hmm… dikira salak. Padahal, cuma rotan yang menjalar dan tegak berdiri mencari matahari.

Memang tak kasar, Feb. Tetapi, kau menyebutkan aku tak punya imajinasi. Majal…! Hatiku tidak terluka karena label yang kau tancapkan itu. Bagaimanapun, pedih membaca kata-katamu itu. Kau sebutkan tulisan yang kususun dengan berkeringat itu tak lebih dari catatan kerani kelurahan yang terus merengek minta gaji dinaikkan, sementara isi laporannya hanya mengotori halaman.

Engkau harus tahu, sepuluh tahun kerja paksa tanpa secuil perkakas, kecuali sepasang tapak tangan dan jari-jari yang kami terima dari Tuhan, bagaimana mungkin kau harapkan otakku mampu melambung sebebas orang merdeka. Terbang membubung menemukan kekuatan kata. Bagaimana tidak mati kelaparan. Cuma itu isi otakku. Otak kami. Kalau kami berkhayal, itu pastilah tak jauh dari pikiran bagaimana menyelamatkan diri. Kalau kami ikan, maka yang kami renungkan, kerjakan, setiap detik adalah bagaimana air bisa tetap berada di insang, di sirip, kami. Tahukah kau bahwa khayal dan imajinasi, juga ikhtiar untuk itu, bisa berakhir dengan kematian: dibunuh penjaga, dibunuh teman sendiri, atau bunuh diri….

Tak berarti kami mampus sudah. Tinggal sekadar daging yang mau, dan bisa bergerak, lantaran siksaan militer yang sedang pesta kekuasaan. Kau bisa memojokkan tikus dan membunuhnya, tetapi sebelum mati dia masih punya akal untuk menyelamatkan sehelai nyawa. Dan itulah juga kami. Tak ada pintu untuk melawan. Tetapi, sudah dari sananya kezaliman mesti dilawan. Dengan jalan bagaimanapun. Kalah total kakekmu ini tak sudi. Walau tak mau mati konyol. Dan tak sia-sia aku ini pernah menjadi sukarelawan dan anggota resimen mahasiswa Jawa Timur untuk membebaskan Irian Barat tahun 1962 di bawah komando Soekarno.

Aku pernah dilatih melancarkan sabotase. Kemahiran ini tak kusia-siakan di pulau pembuangan yang jauh terpencil bernama Buru itu. Aku mencuri beberapa gulung seng. Menyurukkannya di persembunyian yang sempurna. Dasar sial, si Heru mengambilnya selembar dan dijadikannya tempat penjemuran kopi. Mati aku…. Kepergok pengawal. Saya melompat ke depan tapol yang bodoh itu. Mengambil alih tanggung jawab yang bisa berarti kematian bagiku.

”Dia tidak bersalah, Sersan. Saya yang mengambil seng dari gudang,” kataku mantap.

Empat bulan aku dikurung. Tak pernah melihat matahari. Ditanya macam-macam. Disiksa dengan rupa-rupa cara yang baru ditemukan tentara yang bengis itu di sini. Aku dituduh mempersiapkan gudang golok untuk memberontak membebaskan seisi pulau. Setrum, kaki meja kursi, gada besi bergerigi mendarat di sekujur tubuhku. Kalau tak sadarkan diri, mereka cemplungkan aku ke dalam perigi. Diseret keluar. Dipaksa makan cabai rawit sepiring penuh. Kedua mataku tenggelam ditelan pipi, dagu, dan jidatku yang bengkak mau meletus. Digebuki sampai gempor. Aku tak percaya bahwa aku bisa berdiri lagi. Tapi, perlu kukatakan, rasa sakit, perih, nyeri, dari siksaan itu hanya terasa di hari pertama. Selebihnya syarafku kayaknya sudah mati.

Dua hari selepas aku dibebaskan dari penyiksaan, diadakan apel di bawah terik matahari.

”Hei, kalian semua, jangan coba-coba seperti Tumiseng ini, ya…!” bentak komandan kamp menghardik tapol yang berjejer, yang dia perlakukan tak lebih dari segerombolan tikus. ”Atau kalian mau jadi umpan buaya…!” sambungnya lagi, sengit. Aku sakit hati karena dia menodai nama yang diberikan kedua orangtuaku. ”Tumiseng,” katanya. Tumiso pencuri seng. Pedih. Tapi, baiklah, aku tak usah membuat perkara lebih besar. Nasib pesakitan memang untuk memuaskan nafsu yang kuasa.

”Komandan…!” Seruan itu seperti meluncur sendiri dari kerongkonganku. Semua tapol terperangah. ”Memang, saya yang mencuri empat gulung seng. Tapi, itu belum cukup,” ucapku gemetar.

”Ha…! Maksudmu apa?” Matanya menelanku.

”Saya perlu enam gulung lagi….” Para tapol yang berjejer kepanasan bergetar dibuat kata-kataku itu. Dagu mereka tergantung. Melongo. Tak percaya pada setengah manusia, kawan senasib mereka, yang baru saja berbicara.

Sersan yang berkuasa atas nyawa kami melangkah mendekati daguku. ”Mau kauapakan seng sebanyak itu?” Dia mengucapkannya dengan baik-baik, nada datar. Tidak membentak. Aku menang dalam pertarungan tak seimbang ini, teriakku di dalam hati.

”Komandan ’kan tahu keluarga kami akan menyusul. Seng sebanyak itu kami butuhkan untuk membuat perabot rumah tangga. Ember, panci, anglo, teko, dan cangkir. Juga tetabuhan guna menghibur keluarga yang datang. Supaya mereka betah. Saya dan kawan-kawan akan bekerja lebih keras lagi untuk membuat kamp yang Komandan pimpin ini terbaik dari seluruh kamp yang ada di pulau ini.”

Sersan itu seperti mendapat mukjizat dari ucapanku yang tak pernah dia bayangkan. Lama dia menikam mataku. Lama sekali. Kaki para tapol pada bergeser menunggu peruntunganku. Tiba-tiba dia mengamangkan tangan kanannya. Memberi hormat kepadaku. Aku tegak saja. Diam. Tidak bersorak menyambut kemenangan luar biasa ini.

”Pakai sepedaku. Urus semua kebutuhan.”

”Siap, Komandan! Saya perlu surat jalan dari Komandan.”

Dia melepaskan topi lapangannya. ”Ini,” katanya, ”tunjukkan ini kalau ada yang bertanya.”

Jumpalitan aku menari-nari di dalam hati. Kutunggang sepeda menuju gudang, 20 kilo jauhnya. Tidak bersiul-siul kegirangan, memang, namun hatiku tak pernah mekar sesemarak hari itu. Aku melewati unit-unit lain. Mampir dan basa-basi di tengah jalan. Dengan Buyung Saleh, Bandaharo, Naibaho, Tom Anwar. Menjenguk Pram yang tidak memedulikan kehadiranku. Apalagi kemenanganku. Dia seperti diburu waktu, kebanjiran kata-kata untuk segera ditumpahkan ke mesin ketik.

Tema besar dalam surat-suratmu, yang kau desakkan adalah kemampuan berimajinasi. Aku bukan pengarang. Cuma guru yang dituduh memilih jalan terkutuk oleh penguasa. Memang, tanpa daya khayal manusia bukan apa-apa. Dia akan menjadi seperti tikus yang terus-menerus ngibrit ke sarang yang sama. Tak perlu aku berdoa supaya kau menempuh jalan yang kulalui. Ditendang masuk bui, dibuang, supaya mampu memberikan nilai tinggi pada kebebasan. Untuk itu terkadang kita bisa menjadi seorang pendurhaka.

Dengarkanlah baik-baik. Tanpa kebebasan, yang hanya jadi bayang-bayang hampa selama bertahun-tahun dijepit tembok penjara dan hutan belantara, kau menjadi tiada sebelum mati. Agama, di tangan mereka yang tak punya hati dan pikiran, tak menolong. Kau tahu, nenek moyang kita pengikut setia para sunan. Tapi, di pembuangan, oleh orang-orang yang pendek pikiran, fanatik seperti batu yang tak berguna, agama berubah menjadi ajaran yang jahat. Para penganjur yang dikirimkan khusus dari Jakarta memperlakukan kami sebagai calon penghuni yang pasti bagi neraka jahanam. Agama di sini menjadi siksaan. Sungguh. Seorang penyair asal Sumatera, seagama denganku, memberontak dengan cara membangun tonil Kristiani, keliling kampung. Naskah dia tulis sendiri. Penderitaan Kristus selalu menggetarkan, memang. Komandan tertinggi mengenal namanya. Sang Kolonel mengirim kopral menemui, mengancam si penyair kembali ke agama orangtuanya atau …

Namun, tak-bisa-tidak, agama jugalah yang membebaskan. Aku kumpulkan lalang kering, bambu yang tak terpakai, juga dolken. Sendirian, kubangun kuda-kuda. Kutegakkan, dan jadilah apa yang kau sangka sebuah dangau. Beberapa hari kemudian, di ujung kuda-kuda yang memuja langit, kupakukan salib dari dahan kering. Buat komandan jaga, ini kelakuan agamawi. Bukan perlawanan. Dia dianggap sebagai sikap kalah dari mereka yang dirantai. Jadi, gereja itu berdiri dengan damai, kedamaian yang didambakan semua agama.

”Sejauh mana Bung tahu tentang Kristen, kok nekat bikin gereja?” tanya tapol berdarah Tionghoa.

”Bertahun-tahun saya membaca Injil. Sering dengan mengeja huruf dan kata-katanya. Tentu tidak sempurna. Aku yakin gereja membebaskan. Paling tidak membuka celah pintu dunia bagi kita,” jawabku.

Hari Minggu hanya beberapa orang yang hadir beribadah. Kadang aku yang memberikan khotbah singkat. Acap kali, ada pastor yang datang dari Namlea. Gereja yang sederhana itu kemudian berubah jadi pintu menuju surga. Aku bebas berjalan kaki ke Namlea, membantu siapa saja yang memerlukan tenagaku. Ikut memuat dan membongkar muatan kapal. Pulang-pulang terkadang aku mengempit potongan kertas koran di pinggangku. Koran yang usianya sudah berbulan-bulan. Untuk memahami dunia luar, potongan koran bekas itu lebih berharga dari kitab suci. Sembunyi-sembunyi kami bergantian seperti menghafal huruf-hurufnya yang lusuh. Kami menyimaknya huruf-demi-huruf, kata-demi-kata. Titik koma. Mengejanya baik-baik layaknya potongan koran yang kumal itu akan membawa kami ke daratan yang dijanjikan.

Di kemudian hari, gereja itu pula yang menyadarkan dunia bahwa ada seorang penulis, yang bertahun-tahun dikurung, telah berkali-kali dicalonkan untuk menerima Nobel. Sementara Presiden Indonesia malah cuma tercantum dalam urutan teratas di antara koruptor di seluruh dunia. Dan aku tidak mabuk dengan pencapaianku melalui gerejaku itu. Walau aku tahu tanpa tanganku yang menyelundupkan naskah Pram ke Namlea, dunia tak bakalan pernah membacanya.

Cucu semata wayangku,

Ingin kusudahi surat ini dengan permintaan agar kau tidak menuduh aku campur tangan dalam urusanmu yang sangat pribadi selama kau bekerja di Jeddah ini. Engkau bilang, Ben kayaknya kesengsem. Mengejarmu ke mana-mana. Kalau menyentuh tangan lekaki di depan umum akan dihukum, kuanjurkan sambutlah tangannya. Cium diam-diam. Jangan terlalu memilih-milih. Jangan sampai ”Takut titik lalu tumpah.”

Aku tahu, orang Timur Tengah itu tak bisa dipegang. Mereka pasir yang mudah berpindah kalau diterpa angin gurun. Tetapi, ingat, ngger. Percayalah kepada korban! Ben keturunan Palestina, korban dari permainan kekuasaan. Kesepakatan dunia, kalau Israel berdiri, Palestina juga harus menjadi keniscayaan, tegak sebagai satu negara. Tapi, pada akhirnya aku serahkan padamu. Engkau sendirilah yang tahu bagaimana menghadapi badai di negeri dataran gurun yang jauh itu. Kalau kau tak percaya pada pasir, kecuali pada seruan hatimu sendiri, maka sebagai pemuja kebebasan, aku akan menghormati pilihanmu.

Salam, Tumiso Danuasmoro.

Iklan

Empat Plot di Tulouse

Oleh : Ilham Q Moehiddin
Media Indonesia, Minggu 21 Mei 2017

Plot Pertama

SAAT bunga-bunga bermekaran di himpunan perdu, kita sedang terjangkit rindu. Itu penanda hubungan kita yang ragu. Tahun kedua di Tulouse dan kau tak betah. Itu aneh. Kau meneleponku pada subuh hari pertama, minggu terakhir Maret. Ah, aku nyaris lupa apa yang telah kita bicarakan dan ingatan yang kita labuh pada subuh itu. Tidurku terganggu oleh teleponmu. Kau terisak-isak di sana, menyansak waktuku yang sesak, untuk sekadar mendengarmu bicara pendek-pendek tentang gemuruh yang mendesak dadamu. Kau bicara tentang sesuatu yang seharusnya bukan urusanku.

Seharusnya kau tembak saja aku!

Masih kusimpan pistol lada yang dulu kubeli untuk membunuh lelaki tua itu. Lelaki tua itu mengajakku bertemu dan bicara empat mata. Ini antardua lelaki saja—katanya. Omong kosong. Nyatanya ada dua pengawal di sisinya. “Jangan ganggu Gorny lagi,” katanya, mengancamku.

Saat itu ingin sekali kuledakkan pistol lada tepat ke wajahnya. Biar mampus ia, dan rencana-rencana di kepalanya berhamburan ke lantai kafe. Mungkin setelah itu, aku pun akan terkapar mati ditikam dua pengawalnya.

Aku cemas kau akan bosan menungguku keluar dari tempat terkutuk itu. Tentu aku takut dipenjara. Tapi ketakutanku tak lebih besar dari kecemasanku pada para napi lelaki yang kesepian. Narkotika dan kesepian, kudengar telah mengubah penjara seperti pasar malam dan rumah madat.

“Sebaiknya kita bertemu,” pintamu.

Plot Kedua

Hari ini aku tak perlu kembali ke kantor setelah menepati janji bertemu Gorny di kafe tenda dekat anjungan pelabuhan. Aku suka tempat yang dipilih Gorny. Burung-burung Camar di sini masih segan pada manusia—tak seperti Camar di pesisir Laut Hitam yang suka mencuri makanan dari piring pengunjung. Entah kenapa burung-burung itu lebih menyukai kentang daripada ikan. Sesuatu dalam air laut mungkin telah mengubah mereka menjadi mutan.

“Bawa kami pergi,” kau menyentuh lenganku. Kau masih perempuan yang selalu mengejutkanku dengan permintaanpermintaan mendadak.

Apa yang kau cemaskan? Mataku menatap bibirmu yang menyembunyikan kepahitan.

“Suamiku gila!”

Inilah pengakuan paling jujur yang meluncur dari bibirmu tentang lelaki tua itu. Sudah kuduga, ia memang gila.

“Ia memukuliku,” ujarmu cepat.

Dasar pasangan gila. Kau pun pernah nyaris membunuhku dengan keputusasaan yang kau ciptakan. Lalu kini kau akan terbunuh oleh keputus-asaan suamimu.

“Anakmu?”

Kau mengangguk. “Seine baik-baik saja.”

Syukurlah. Kepalaku berpaling ke arah laut. Mataku tertuju ke pulau kecil di kejauhan. Pulau dengan enam cottage berdesain Palma. Seingatku, di pulau itu ada sepotong tulang yang diakui para pengurus cottage sebagai tulang rusuk Mermaid. Air muka mereka begitu meyakinkan saat menceritakannya.

Wajahmu serius sekali. Aku mendesah. “Baiklah.”

Kau memajukan kepalamu. “Bawa kami pergi. Ke tempat paling aman.”

“Kau mendengarku dengan jelas, Gorny.” Aku menggerutu. Betapa menyedihkan situasi ini. Aku pernah mengharapkanmu menjadi istriku, tapi kau memilih lelaki tua pemilik perusahaan ikan beku itu. Kini kau hendak memasuki hidupku lagi dan bertingkah seolah-olah kau tak pernah mengecewakanku. “Kau punya uang?” Tanyaku.

“Tabunganku cukup.”

“Paspor?”

“Ada.” Wajahmu memelas.

Aku tatap matamu. “Baiklah. Kau tahu Baukje?”

Kau mengangguk.

“Baukje tinggal di Belanda. Ia akan senang menerima kalian. Ia menyukai anak kecil.”

Plot Ketiga
Suamimu menemuiku untuk kedua kalinya. Di pertemuan pertama saja aku sempat berniat membunuhnya. Tapi saat ini, suamimu yang paling mungkin melakukan itu padaku.

Lelaki tua kaya yang marah karena terbakar cemburu dan dua pengawal bertubuh besar yang tampak mampu menganiaya siapa pun, adalah kombinasi berbahaya. Mereka memergokiku di parkiran kantor dan menggelandangku ke gudang ini.

“Kau pasti tahu di mana Gorny,” tuduh suamimu.

Aku menggeleng. Suamimu tertawa sinis. Dari saku jas panjangnya, ia tarik tabung ganda berbahan kulit berisi dua batang cerutu. Dicabutnya sebatang, lalu mengembalikan wadahnya ke balik jas. Dikeluarkannya juga cincin pemotong cerutu bersama pemantik kayu. “Maaf, aku tak bisa menawarimu. Cerutu bermutu tinggi sukar dicari saat ini.”

Aku tersenyum mengejek.

“Kau mau apa?”

Suamimu mengangguk. “Jawab saja pertanyaanku tadi.”

“Sejak kau menikahinya seharusnya kau lebih tahu soal Gorny.”

Suamimu memukul meja. “Jangan mengalihkan masalah. Aku bisa membunuhmu!” Desisnya ke wajahku. Aku menjauhkan kepalaku, tapi gagal karena pengawalnya menekan belakang leherku.

Aku tersenyum kecut. “Lalu apa yang kau tunggu?”

“Baiklah,” suamimu menggeleng seraya menatapku dengan licik, “kita akan melakukan ini seharian penuh. Percayalah.”

Dua pengawalnya lalu menekan telapak tangan kiriku ke atas meja. Suamimu yang gila itu mengeluarkan benda dari saku jasnya dan dengan benda itu ia tetak punggung tanganku. Sakitnya menjalar ke telingaku, sebelum menuju tulang belakang. Membuat setiap persendianku gemetar.

Jika kubilang aku tak menangis saat menerima pukulan benda itu, maka aku berbohong. Popor pistol suamimu membuat dua tulang jemariku patah.

“Baiklah! Aku akan mencari Gorny,” aku terbata-bata menahan sakit.

“Apa aku harus mempercayaimu?”

Aku menggeleng. “Tak perlu, tapi kau bisa mengawasiku,” kataku sambil melirik dua pengawalnya. “Buatlah dua orang dungu ini lebih berguna. Uangmu hanya membuat tubuh mereka membesar, tapi tidak dengan otaknya.”

Suamimu tertawa saat seorang pengawalnya segera menepak belakang kepalaku karena jengkel. Ia kemudian menunjuk lelaki yang menepak kepalaku tadi. “Dia akan senang menancapkan sesuatu ke lehermu jika kau mengelabuiku.”

Lelaki besar itu menyeringai dan mengangguk.

Plot Keempat
“Kalian siap?” tanyaku.

“Ya,” kau mengangguk, “jam berapa kita ke bandara? Jika terlalu lama, kami bisa ketinggalan penerbangan.”

Jika aku tak mencintaimu, tak mungkin aku mengambil risiko sebesar ini. Tapi kau merasa perlu mendesakku untuk rencana ini. Tak ada orang yang begitu mencintaimu seperti aku.

Pintu terpentang, saat seorang lelaki bertubuh besar masuk dan merenggut tanganmu. Kau terkejut dan meraung. Kau menghujaniku dengan tinjumu. Pengawal suamimu menarik dan mendorongmu ke dalam mobil. Anakmu menangis ketakutan sambil berpeluk pada pengasuhnya.

“Kau menipuku!” Kau meneriakiku dalam perjalanan ke tempat di mana suamimu telah menunggu. Aku tersenyum sinis. “Menipumu? Kau tak tahu sakitnya saat kau memutuskan menikahi majikan si dungu ini,” timpalku. Si pengawal di sisimu mendengus jengkel.

Kau menangis. “Kau tidak memahamiku.”

“Aku memang belum selesai melakukannya,” kataku.

“Aku mencemaskan keselamatan kalian.”

“Omong kosong!” hardikku

Lalu kau membanting punggungmu ke jok mobil.

Suamimu tersenyum melihat kau keluar dari sedan hitam yang kita tumpangi. Aku menyusul turun. “Orang sepertimu banyak sekali di dunia ini,” kata lelaki tua itu.Aku menjawabnya dengan meludah ke lantai.

Suamimu mengulurkan tangan saat kau berjalan ketakutan menghampirinya. Tatapanmu tiba-tiba kosong. Sepertinya mereka akan segera membawamu pergi.

Aku menyela. “Jangan lupa singgah menjemput putra kalian di rumahku.”

“Tak perlu!” suamimu menjawab cepat. Aku kaget.

“Itu anakmu, bodoh!” Wajah licik suamimu tampak lagi, “aku hanya menginginkan milikku.”

“Gorny?” Aku menatapmu, meminta penjelasan. Kau memejamkan mata.

Aku terguncang. Situasi ini segera menjadi jelas saat kau menganggukkan kepala ke arahku. Aku teringat ucapanmu di mobil tadi—aku mencemaskan keselamatan kalian.

Kalian? Kepalaku tiba-tiba berat, seperti ada setan yang mendudukinya dan membujuk untuk melakukan sesuatu yang kuanggap perlu. Itu nasihat jahat di waktu yang tepat. Saat aku usai memutar tubuhku, seorang pengawal di belakangku terjengkang. Pistol lada melubangi lehernya. Lelaki dungu lain yang berdiri di depan mobil, sempat terlanga, tapi segera rubuh ke lantai saat peluru kedua dari pistol ladaku menembus dadanya. Masih ada dua peluru lagi.

Ia salah mengira bahwa aku terlalu lemah untuk membuatnya tak waspada. Ia lupa membawa pistolnya.

“Aku tak akan memohon padamu,” ujar suamimu.

“Jangan,” aku menggeleng. Aku tarik kerah jas panjangnya dan kuselipkan tanganku ke sakunya. Kutarik keluar tabung cerutunya, “bagus juga sesekali mencoba cerutu bermutu tinggi.”

Kuminta lelaki tua itu mengeluarkan cincin pemotong dan pemantik api.

Pistolku terarah padanya. Ia menurut. Ia memotong ujung cerutu, memantikkan api untukku sekaligus. Asap cerutu segera membumbung.

Aku tersenyum. “Artikel di koran minggu selalu benar.”

Suamimu sinis menatapku. “Aku belum selesai denganmu.”

Ledakan pistol ladaku meredam ocehannya, “Tapi aku sudah selesai!” Lelaki tua itu memegang perutnya.

“Kau—kau tak bisa…”

Pistol ladaku meledak sekali lagi. Suamimu tersentak kemudian diam. Peluruku habis, namun ada liang baru di kepalanya.

Kakek dari Tong San

Oleh : Sunlie Thomas Alexander
Jawa Pos, Minggu 18 Desember 2016

KERAPKALI selepas makan malam kami sekeluarga akan berkumpul di ruang toko jahit yang tak begitu luas itu. Dengan Akong duduk di belakang mejanya yang besar-panjang, tempat ia menggambar dan menggunting pola-pola pakaian (ah, meja peninggalan kakek buyutku yang usianya sudah puluhan tahun!). Sementara ayahku duduk di balik mesin jahitnya; aku dan Mama duduk di lantai samping pintu depan beralaskan selembar triplek sisa menyekat kamar Bibi Ngiat Ngo di lantai atas. Bibi keduaku itu (yang saat itu masih tinggal bersama) kadangkala ikut nimbrung jika sedang tak ada kesibukan.

Paman tertuaku Ngiu Long (begitulah ia kerap dipanggil orang) lebih suka berdiri di pojok ruangan; di belakang sebuah lemari kaca rendah yang digunakan untuk memajang pakaian-pakaian siap jual. Ia tak pernah beranjak dari sana, kendati sesekali harus membungkuk menggaruk kakinya yang diserbu oleh kawanan nyamuk. Sedangkan ManMan –paman kecilku yang autis– tidak pernah duduk diam di satu tempat. Terkadang ia duduk di lantai semen di hadapanku, di lain waktu ia berpindah ke samping Akong dan duduk di kursi rotan di sebelah kursi tinggi ayahnya. Tak betah di sana, ia akan berpindah lagi ke dekat ayahku sebelum akhirnya diusir Papa karena mengeluarkan suara kentut nyaring.

Ai, pada malam-malam seperti inilah, sembari mendengarkan Akong berkisah, kami benar-benar merasakan kehangatan sebuah keluarga…

Ya, Akonglah yang sering bercerita ketimbang Papa. Sebelum memulai ia biasanya akan menyulut sebatang rokok terlebih dulu, lalu mengisapnya beberapa kali sembari memperhatikan asap rokok yang meliuk-liuk keluar dari lubang hidung dan mulutnya. Sehingga membuatku jadi semakin tidak sabaran menunggu cerita apa lagi yang bakal ia bawakan..

Apakah Akong akan menuturkan lagi mitologi-mitologi China seperti cerita Sun Wu Kong mengacau di Istana Langit, Nazha yang mencuci popok di Laut Selatan. kisah Delapan Dewa menyeberang samudera? Atau barangkali cerita-cerita dari jagat persilatan –baik yang populer maupun yang berasal dari sastra klasik– seperti Sin Tiauw Hiap Lu, Sie Jin Kui, Fang Shi Yu, Fa Mu Lan, Sam Kok, dan Sui Hu Chuan? Bisa jadi pula ia bakal kembali mengisahkan kenangan masa kanak-kanak dan remajanya yanng acap membuat kami tergelak geli. Ataukah kali ini ia akan menghidupkan beragam peristiwa sejarah yang pernah ia dengar, baca, maupun alami sendiri. Misalnya, betapa heroiknya tentara Rute Kedelapan tatkala mempertahankan Kota Shanghai dari serbuan Jepang, atau perseteruan antara Kuomintang dengan Partai Komunis Chinaa yang tak kunjung selesai.

***

“KAKEKMU orang Tong San(1),” kata ibuku, kadang dengan wajah bersungut-sungut. Terutama ketika Akong memintanya memasak masakan ala Jiaying Zhou(2) semacam Ca Nyuk atau Mun Cu Kiok(3) yang kurang cocok dengan lidah peranakannya.

Sebagai generasi entah sudah berapa belas yang lahir dan besar di Bangka, selera Mama memang selera orang Bangka tulen yang lebih menyukai masakan China Peranakan atau pribumi. Tak ada masakan yang membuatnya lebih lahap daripada masakan-masakan Melayu seperti Lempah Darat, Lempah Keladi, Ikan Asam Pedas, atau lalapan pucuk ubi (daun singkong muda rebus) dengan sambal Rusip atau Calok. Karena itu, wajar saja jika kemudian aku pun turut menyukai masakan-masakan lokal itu. Dan kukira begitu pula halnya Papa dan paman-bibiku. Sementara Akong kurasa ikut memakannya hanya lantaran tak ingin mengecewakan menantunya saja. Toh, ia juga kerap memuji masakan-masakan Jiaying Zhou-nya Mama.

Akong datang ke Bangka lewat Swatow. Ketika kapal uap Jerman yang membawa ia dan kakek buyutku merapat di Pelabuhan Muntok setelah sempat singgah tiga hari di Singapura, umurnya baru sembilan tahun. Dalam foto hitam-putih di dokumen imigrasinya ia mengenakan kemeja China berkancing besar. Tampak culun dengan kepala yang dicukur nyaris gundul. Aku sudah lupa kapan pertama kali dokumen berbahasa Belanda (yang berhasil aku amankan di kemudian hari) ini diperlihatkannya kepadaku.

Aku jelas tidak paham bahasa Belanda. Namun kuat dugaanku dokumen yang ditandatangani di Sungailiat, 9 Agustus 1926, itu adalah semacam visa. Menurut yang aku baca belakangan, pada masa itu memang tidaklah terlampau sulit memasuki wilayah Hindia Belanda. Aku tak pernah menemukan buku paspor Akong sebagaimana yang dimiliki oleh istrinya.
Buku paspor nenekku dikeluarkan oleh Pemerintah Republik China, bersampul hitam dengan lambang negara matahari bersudut dua belas seperti paspor Taiwan masa kini. Hanya saja tulisan “Hàny, Zhanghua Minguo”-nya menurun ke bawah. Kata Akong, paspor itu dibuat usai mereka menikah di China Daratan. Tertera dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris. Pada halaman ketiga ada stempel dan tanda tangan Konsulat Jenderal Belanda di Hongkong. Ya, izin masuk ke Hindia Belanda! Masih tertera jelas titimangsanya: 16 November 1936.

Ah, Akong konon pulang mencari istri ke China Daratan lantaran kakek buyutku kurang berkenan dengan gadis peranakan yang dinilainya kasar dan tak lagi teguh berpegang pada adat-tradisi.

“Tapi kalian tahu, jauh-jauh aku pulang ke China dengan niat mencari gadis sekampung, eh, dapatnya malah yang kelahiran sini juga!” demikian kata Akong lalu terkekeh. Kami semua ikut tertawa mendengar bagaimana ia begitu ketakutan harus meniti dua bilah papan di atas bentangan sungai berarus kencang saat menuju ke rumah Apho untuk melamar.

“Habislah diriku waktu itu jadi bahan olokan orang sekampung,” ujarnya dengan wajah agak memerah.

Benar, nenekku juga perempuan kelahiran Belinyu. Hanya saja ia dibawa orang tuanya pulang ke China Daratan semasa kanak-kanak. Aku tidak tahu banyak mengenai keluarga Apho. Ayahku bilang bahwa keluarga itu dulu tinggal di Kampung Lumut. Apho menikah pada umur 16 tahun, dan umur Akong ketika itu sekitar tujuh belas. Aku hanya mengenal Apho dari foto-foto hitam putih dalam album keluarga kami. Ia sudah lama berpulang sebelum aku lahir. Meninggal muda karena sakit, kata Papa.

Aku juga tidak tahu kenapa Akong jarang bercerita tentang Apho. Namun kukira ia sangat mencintai istrinya itu. Kerap aku pergoki sepasang matanya tampak berkaca-kaca setiap kali memandangi foto-foto Apho.

Keluarga kami memiliki sejumlah album keluarga berisi foto-foto tua. Album-album itu –seperti halnya paspor nenekku– juga bersampul hitam dari kertas karton. Demikian pula warna halaman di dalamnya yang ditempeli foto beragam ukuran. Tak ada plastik pelindung, foto-foto itu hanya dilekatkan begitu saja di atas halaman dengan lem. Kebanyakan sudah menguning, tetapi umumnya masih dalam kondisi cukup baik. Hanya sebagian kecil foto yang rusak atau memudar. Ada yang terlepas dan dilem kembali, namun ada yang dibiarkan dan hanya diselipkan di tengah album. Semua album foto lama itu ditempatkan Akong di bagian teratas salah satu lemari rak dalam toko bersama buku-buku dan Alkitab berbahasa Mandarin. Sehingga setiap kali ingin melihat foto-foto tersebut, aku mesti menarik sebuah kursi dan naik ke atasnya agar dapat menjangkaukan tanganku ke rak teratas.

Aku paling menyukai selembar foto di mana Akong berpose bersama seluruh anggota keluarganya. Dalam foto berukuran kartu pos itu, Akong duduk di sebelah kiri, sementara Apho duduk di kanan menggendong pamanku Man-Man yang masih bayi. Keduanya mengapit Papa dan Paman Ngiu Long yang duduk di tengah, sedangkan kedua bibiku berdiri di belakang mereka. Papa masih tampak begitu muda dan ganteng, pandangan matanya yang lurus menatap kamera terkesan optimistis, penuh rasa percaya diri.

“Hahaha, itu kan karena aku tegang! Aku jarang berfoto,” kilah ayahku ketika Mama mengolok-oloknya. Ah, foto keluarga yang sama pulalah, tertempel pada “Sertifikat Pulang” mereka yang dikeluarkan oleh Konsulat Jenderal Republik Rakyat China di Jakarta. Sertifikat itu kendati tak pernah –atau lebih tepatnya, tak jadi– dipakai, namun tetap diperlakukan sebagai selembar dokumen penting oleh Akong.

Hm, entah kenapa aku begitu suka melihat foto-foto tua itu. Terkadang aku betah berjam-jam mempelototinya selembar demi selembar, mengamati setiap detail: ekspresi orang-orang, pakaian-sepatu-sandal yang mereka kenakan, pemandangan yang menjadi latar, dinding-dinding ruangan, perabot-perabot yang tertangkap oleh kamera, bentukbentuk bangunan. Ada semacam aroma ganjil, terasa asing namun akrab, yang menguar dari dalam fotofoto itu. Ya, aroma China!

Hanya saja aroma itu tidaklah sekuat aroma yang keluar dari koporkopor tua Akong –tepatnya tiga buah kopor yang tergeletak di bawah ranjangnya di kamar lantai atas. Dua di antara kopor itu terbuat dari besi yang sudah berkarat oleh usia. Sedangkan satu lagi adalah kopor kulit. Tak ada barang menarik disimpan dalam kopor-kopor yang cukup besar dan berat itu selain pakaian-pakaian tua yang tak lagi layak dipakai. Namun demikian, tetap saja aku acap tergoda untuk membukanya. Dan setiap kali penutup koporkopor berdebu itu terpentang lebar, keluarlah aroma Tong San yang begitu menggairahkan, bercampur aduk dengan bau apak dan aroma kapur barus.

Aroma serupa juga tercium santer pada salah satu dari dua buah laci meja kerja Akong, di mana ia menyimpan dokumen-dokumen penting dan surat adik-adiknya dari Taiwan dan China Daratan…
***
AKONG, dalam kenanganku adalah seorang pencerita yang piawai. Begitu mahirnya ia membawakan jalan cerita; membangun suasana, menunda klimaks, menyimpan teka-teki atau memberi kejutan di akhir kisah, sehingga membuatku sering kali terperangah takjub atau diselimuti rasa haru, bahkan terhenyak kaget dan bergegas merapat ke samping Mama dengan bulu kuduk terasa merinding.

Meski, kalian tahu, sesekali Papa akan menyela; sekadar membetulkan kronologi cerita, nama tokoh atau kekeliruan Akong menempatkan peristiwa. Dan hal ini sering membuat Akong gusar karena tidak senang dipotong. Akibatnya, kadangkala terjadi keributan kecil di antara keduanya.

Ayahku sebetulnya juga cukup pintar berkisah. Hanya, ia tidak sesabar Akong. Lagipula, ia punya kebiasaan berhenti seenaknya di tengah jalan dengan beragam alasan. Padahal sebagai lulusan Tiong Hoa Hwee Koan yang suka membaca, Papa tidaklah pernah kekurangan bahan cerita.

Aku masih ingat pada berkardus-kardus buku miliknya yang tersimpan di loteng; sebagian adalah buku-buku sekolahnya dan sebagian lagi berupa buku-buku sejarah, politik, novel, dan kumpulan puisi. Hampir semuanya dalam bahasa Mandarin, walaupun ada beberapa dalam bahasa Inggris. Dulu aku suka membolak-balik buku-buku tua itu, terutama buku-buku yang bergambar.

“Itu buku-buku yang selamat,” kata Papa dengan raut wajah sedih. Di kemudian hari, barulah aku memahami maksudnya. Konon, ketika tentara dan polisi beramai-ramai melakukan sweeping buku kiri ke rumah orang China selepas peristiwa 65, banyak yang terpaksa membakar buku-buku mereka lantaran ketakutan. Ya, kendati buku-buku tersebut sama sekali tak mengandung ajaran komunisme.

“Siapa yang berani mengambil resiko kala itu? Setan-setan busuk itu kan tidak bisa membaca huruf Hàny ? Dan mereka bisanya main tuduh saja!” gerutu Leu Sukkong –salah seorang teman lama Akong yang sering bertandang ke rumah– suatu hari. Waktu itu aku sudah duduk di bangku SMA.

Menurut ayahku, ia berhasil menyembunyikan buku-buku itu di toilet yang sedikit jauh di belakang rumah. Namun, sebagian buku lainnya, terbitan Republik Rakyat China, terpaksa dimusnahkan karena risikonya terlalu besar kalau ditemukan…

Berbeda dengan anak-anaknya, Akong hanyalah menempuh pendidikan formal sampai setingkat kelas tiga entah empat SD (aku lupa persisnya). Syahdan, ia dikeluarkan dari sekolah karena meninju hidung seorang murid lain sampai berdarah.

“Anak itu setiap hari meneriakkan nama ayahku di depan mukaku. Aku tidak tahan lagi, kuhampiri ia dan kupukul tepat di batang hidungnya!” kenang Akong sambil mengulum senyum.

Ai, lantaran pada masa itu kakek buyutku seorang pedagang yang cukup sukses, tidaklah sulit baginya mendatangkan guru- guru privat untuk mengajari Akong di rumah. Dari guru-guru inilah, selain pelajaran Bahasa Mandarin dan berhitung, Akong belajar Bahasa Melayu dan menulis huruf latin. Jelas, dengan menitikberatkan pelajaran-pelajaran itu, kakek buyutku (Kong Thai, demikian kami menyebutnya) ingin Akong membantunya mengurus toko. Karena itu, tak heran jika Kong Thai tegas menolak tatkala seorang temannya menyarankan agar ia menyekolahkan Akong ke China.

Namun bertahun-tahun kemudian setelah ia meninggal, Akong mengirim kedua adiknya, A Ng dan A Liuk, kembali ke China untuk melanjutkan sekolah. Si bungsu nomor enam akhirnya menjadi dosen pertanian –kalau tak salah ingat– di Nanjing. Sementara adik kelimanya, ketika perang saudara memuncak, memilih meninggalkan bangku kuliah dan bergabung dengan tentara Kuomintang. Bersama ribuan warga sipil dan tentara lainnya, ia pun ikut Chiang Kai-sek menyingkir ke Taiwan saat mereka kalah perang.

Adik nomor tiganya –kurang-lebih tiga belas tahun kemudian– juga memutuskan meninggalkan Indonesia dan pergi ke Taiwan. Yang keempat membuka usaha di Pasar 13 Ilir Palembang dan sering mengunjungi Akong saat aku masih SD. Namun pasca-reformasi ia pun mengikuti jejak kedua saudaranya; memboyong seluruh keluarganya pindah ke Taiwan dan menjadi warga negara Republik China.

Ah, kalau saja Akong dulu disekolahkan buyutku ke China, tentu cerita ini bakal berbeda. Ia sebetulnya tidaklah berbakat dagang. Semasa muda, Akong –kata Papa dengan nada jengkel– lebih senang keluyuran daripada berada di toko dan terlalu banyak terlibat dalam kegiatan sosial. Aktivitasnya di gereja, kemudian perselisihan kecil dengan adik keduanya yang baru datang dari China Daratan, perlahan membuat toko peninggalan buyutku terancam bangkrut. Perselisihan itulah yang membuat mereka kemudian memutuskan pisah usaha dan memilih jalan masing-masing.
***
YA, berbeda dengan sebagian besar orang China di Bangka yang didatangkan oleh Belanda sebagai kuli tambang timah, kakek buyutku adalah bagian dari gelombang migrasi yang tiba belakangan dengan tujuan berdagang.

Ia memutuskan untuk datang mengadu nasib setelah menyirap kabar tentang kondisi Nányáng(5) pada masa itu dari sejumlah kerabat. Mula-mula ia pergi ke Semarang, sempat tinggal dan berdagang di sana selama beberapa waktu, sebelum kemudian pulang ke Guandong untuk menjemput Akong. Dari tiga orang bersaudara, sebagai putra tertua Akonglah yang terpilih untuk dibawa, sementara kakak perempuan dan adik laki-lakinya yang masih kecil ditinggalkan bersama nenek buyutku.

Namun Kong Thai tidaklah kembali ke Semarang, melainkan ke Pulau Bangka. Di mana banyak kerabat dan teman-temannya sudah terlebih dulu bertandang. Kejayaan penambang timah dan banyaknya orang Hakka satu kampungnya di daerah yang pernah dikuasai oleh Kesultanan Palembang Darussalam ini agaknya telah menarik naluri dagangnya. Berbekal sebuah ruko sewaan, ia membuka Toko Serba Ada di kompleks Pasar Belinyu (yang sekarang menjadi terminal bus). Dan dalam waktu relatif singkat, usahanya maju pesat. Bahkan beberapa tahun kemudian, toserbanya itu boleh dikatakan sebagai salah satu toko terbesar di wilayah Kewedanaan Belinyu. Nama tokonya pun harum ke mana-mana.

Di Nányáng, nenek buyutku (Pho Thai, begitulah kami memanggil) yang datang menyusul, kemudian melahirkan anak ketiga, keempat, kelima, dan keenam. Celakanya, Kong Thai terlampau pelit untuk menggaji pengasuh. Akibatnya, Akong pun acap ketiban tugas tambahan membantu mengasuh adik-adiknya lantaran Pho Thai kerap sakit-sakitan.

“Sering aku disuruh memasak bubur untuk A Sam dan A Si. Biasanya bubur itu dikasih sepotong daging sapi agar lebih sedap. Dagingnya boleh untukku,” demikian Akong melanjutkan dengan suara lemah.

Oktober 1997, ketika aku belum lama menamatkan SMA, Akong meninggal dalam usia 80 tahun (81 dalam hitungan kalender lunar). Bukan sakit parah, karena beberapa hari sebelumnya ia masih segar bugar dan menjahit. Tubuhnya tiba-tiba saja melemah, cuma sekali sempat ke praktik dokter. Akong meninggal dalam pelukanku; hanya setahun setelah ia mendapatkan KTP Warga Negara Indonesia(6). Ya, setelah hampir seumur hidup ia memegang KTP Warga Negara Asing dengan huruf merah menyala.

Seperti umumnya kaum Huáqiáo(7) generasi pertama, Akong memang memiliki ikatan emosi begitu kuat dengan China. Karena itulah, tak aneh jika ia –sebagaimana banyak orang China segenerasinya– lebih memilih mempertahankan kewarganegaraan China yang mereka miliki daripada beralih menjadi WNI(8). Hanya saja, selepas Mao memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober 1949, persoalan menjadi sedikit rumit. Karena mereka harus berhadapan dengan dua pilihan lagi, yakni berpihak kepada Republik Rakyat China (Tiongkok) atau Republik China (Taiwan)! Akong tidak percaya pada komunisme, namun ia melek sejarah dan politik. Baginya, Republik China yang didirikan oleh Dr Sun Yat-sen pada tahun 1911 telah berakhir sejak lama bersamaan dengan wafatnya sang Bapa Bangsa. Di bawah Pemerintah Chiang Kai-sek (dengan Kuomintang), Republik China hampir tak ada bedanya dengan Dinasti Qing; dipenuhi oleh korupsi, penindasan dan kesewenang-wenangan.

“Wajar mereka kalah. Mereka sebetulnya bukan dikalahkan oleh komunis, tetapi oleh rakyat yang marah! Mereka itu boneka Amerika,” tukasnya dengan nada berapi-api suatu ketika.

Ah, kukira itu pula sebabnya ketika pada tahun 1960 terjadi pengusiran terhadap para pedagang China yang “asing” dari seluruh daerah tingkat II ke bawah, Akong memutuskan hendak memboyong keluarganya pulang ke China Daratan, tanah kelahirannya. Bukan ke Taiwan seperti adik nomor tiganya yang bersetia kepada Kuomintang…

Dalam kenangan Papa, dulu setiap kali hari besar nasional seperti 17 Agustus, mereka mesti mengibarkan dua lembar bendera di depan ruko: Merah Putih dan bendera merah lima bintang. Ya, bendera RRC. Bendera yang kemudian disembunyikan di loteng bersama berkardus-kardus buku, dibiarkan perlahan merapuh, dan akhirnya ludes bersama begitu banyak kenangan saat kebakaran hebat melahap deretan ruko kami pada tahun 1993. ***

Catatan:
Cerita ini merupakan bagian pertama dari himpunan cerita “Memoar Pulau Timah”.

(1) Ting San (Bahasa Hakka). Dalam Bahasa Mandarin dieja Tang San yang berarti Negeri Tang (China). Orang Tionghoa di Bangka-Belitung sampai kini masih sering menyebut diri mereka sebagai keturunan Dinasti Tang: Thong Ngin (Tang Ren). Kendati umumnya mereka –seperti orang China di sleuruh dunia– juga emngakui diri mereka sebagai orang Han yang berarti keturunan Dinasti Han.

(2) Jiaying Zhou, sebuah wilayah di Provinsi Guandong, Republik Rakyat China yang diakui sebagai kampung halaman orang orang Hakka. Sekarang namanya adalah Meizhou.

(3) Ca Nyuk: Daging babi digoreng tepung, Mun Cu Kiok: Kaki babi direbus kecap (Bahasa Hakka).

(4) Gui Guo Zhengming Shu atau Certificatae of Return. Latar belakang dikeluarkannya sertifikat ini adalah peristiwa pemberlakuan PP No. 10/1959 yang mengakibatkan jutaan warga Tionghoa dilarang berdagang di wilayah tingkat II ke bawah. Desakan Peking (Beijing) agar peraturan ini ditinjau ulang ditolak, sehingga Pemerintah RRC berang dan mengumumkan ajakan kepada warga China Perantauan (Huaqiao) untuk kembali ke “Kehangatan Ibu Pertiwi” lewat Radio Peking, 10 Desember 1959. Kedubes RRC di Jakarta pun segera mendaftar orang-orang Tionghoa yang tertarik ajakan tersebut. Langkah serupa juga ditempuh oleh Pemerintah Republik China (ROC) di taipei.

(5) Nanyang secara harfiah berarti Lautan Selatan, sebutan untuk Nusantara.

(6) Pada tahun 1996, Presiden Soeharto mengeluarkan Keppres No. 56/1996 yang menginstruksikan penyelesaian masalah kewarganegaraan orang Tionghoa yang masih tercatat sebagaiWNA sekaligus penghapusan fungsi Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SKBRI) yang selama puluhan tahun menjadi momok bagi WNI keturunan Tionghoa.

(7) Huaqiao: China Perantauan/ Chinese Overseas.

(8) Dalam bukunya Hoakiau di Indonesia (Garba Budaya, Jakarta, Cet. II, 1998), Pramoedya Ananta Toer mengajukan pertanyaan menantang, “Apa salahnya memilih kewarganegaraan RRC?” Menurut Pram, Hoakiau (Huaqiao) adalah kesalahan sejarah. Sepanjang sejarah Indonesia sejak zaman Hindia-Belanda, persoalan Hoakiau tak pernah tersentuh secara proporsional, sehingga ketidakjelasan kedudukannya dalam sejarah ini membuat mereka dengan mudah menjadi kambing hitam siapa saja yang boleh seenaknya mencabuti bulunya. Adalah hak bagi mereka untuk memiliki kewarganegaraan RRC, dan itu bukanlah suatu kejahatan. Akibat pembelaannya ini, Pram dituduh hendak menjual Indonesia kepada RRC.

Dari Gigi untuk Gigi

Oleh : Muliadi GF
Jawa Pos, Minggu 11 Desember 2016

TEMPAT paling menakutkan di muka bumi versi Madeali adalah ruang Poli Gigi. Di ruang tunggu Puskesmas pada Selasa pagi, pemuda yang bekerja sebagai guru honorer itu menggenggam kartu antrean nomor 2 dengan tangan gemetar. Di matanya, pintu ruang Poli Gigi tampak seolah-olah meleleh dan menjelma wajah besar menyeringai dengan gigi-gigi yang tajam.

Tiba-tiba…, “Alihkan perhatianmu! Alihkan!” suara ini membuatnya menoleh.

Seorang tua gondrong beruban—kumis dan jenggot lebatnya juga beruban—duduk di samping Madeali dengan memegang tongkat kayu yang terus diketuk-ketukan ke tegel. Pakaiannya sejenis jubah berwarna merah yang kedodoran, membuat tubuhnya yang kurus tampak lebih kurus lagi. Di kepalanya, bertengger serban sewarna jubahnya, berbentuk seperti kue bolu utuh belum diiris-iris. Mulut orang itu ompong tanpa gigi depan, mengingatkan Madeali pada kandang kucing yang terbuka lebar.

“Apa?” Madeali bertanya untuk memastikan orang itu memang bicara kepadanya.

“Kamu harus mengalihkan perhatian, ke apa saja.”

Madeali terpaku. Terlepas dari benar-tidaknya, ia merasa sebuah proses kebahasaan yang unik baru saja terjadi di depan matanya. Kata ‘saja’ ternyata bisa menyebabkan kandang kucing terbuka lebar, pikirnya.

“Sudah lihat mulut saya?” si Tua sadar ia diperhatikan.

Pipi Madeali bersemu merah karena malu.

“Saya sudah berpengalaman untuk urusan satu ini, orang-orang mestinya memanfaatkan pengalaman saya,” kata si Tua bangga.

“Memangnya sudah berapa kali Bapak pergi ke dokter gigi?”

“Sebanyak gigi depan saya. Lihat,” si Tua menganga. “Yang tersisa tinggal geraham.”

“Bapak tidak takut?”

“Takut ya takut. Tapi, saya bawa aman saja dengan memikirkan hal lain.”

“Bagaimana caranya? Saya sulit memikirkan hal lain di saat seperti ini.”

“Hem…. Kalau begitu, kamu betul-betul butuh mawar kuning.”

“Mawar kuning? Itu merek obat ya? Ada sama Bapak?”

“Ada. Di sini,” si Tua menunjuk jidatnya yang keriput.

Ular! Pembual! Ejek Madeali dalam hati. Dia luruskan duduknya ke depan. Tapi cepat saja, pintu ruang Poli Gigi kembali menyeringai, membuat Madeali sadar obrolan dengan si Tua telah membantunya melewatkan situasi gentingnya beberapa lama.

“Apa maksudnya ya, Pak?” dia menoleh lagi.

“Begini, anak muda. Mawar kuning itu sudah ada di kepalamu. Kamu tinggal memusatkan perhatian untuk menyibak kabut yang menutupinya dan menemukan mawar itu.”

“Nomor satu!” teriak perawat dari balik pintu.

Tujuh detik berlalu, suara itu berulang, “Nomor satu!”

Pun tujuh detik berikutnya, kali ini lebih nyaring dan panjang, “Nooomor satuuu!”

Si Tua bangkit. “Ingat ya. Mawar kuning,” katanya.

Madeali bukan pencinta bunga. Ia buta akan jenis-jenis mawar. Pernah didengarnya, mawar merah adalah lambang cinta. Tapi mawar kuning? Ia tak tahu. Ia sudah hampir menyerah bertanya-tanya dalam hati, ketika teringat gawainya. Google pasti tahu.

Google menampilkan tiga kuntum mawar dengan mahkota berlapis-lapis, menggulung ke dalam, seperti sejenis kue kering yang akrab di mata Madeali tiap Lebaran, hanya yang ini kuningnya lebih cerah daripada kue mentega itu. Di bawahnya, tertera tautan ke sebuah situs web dengan keterangan bahwa situs itu punya 760.000 gambar mawar kuning. Madeali tak tertarik; baginya, hanya butuh tiga gambar untuk tahu penampilan fisik mawar yang kini jadi buronan pikirannya. Kini dia memburu sesuatu yang sifatnya lebih esensial, katakanlah begitu. Karena itu, ketika melihat di bawah tautan tadi ada tautan lain dengan tajuk “Arti Bunga Mawar Kuning”, tanpa pikir panjang ia membukanya.
Di situ Madeali membaca bahwa mawar kuning secara umum mengungkapkan kehangatan hati dan keindahan; bunga ini merupakan simbol persahabatan; warnanya sering dikaitkan dengan matahari; penampilan mawar ini konon membawa senyum di bibir banyak orang; dan seterusnya, dan seterusnya.

Inilah sebabnya orang tua itu suka betul tersenyum, meski mulutnya seperti kandang kucing, batin Madeali. Sebenarnya ia masih ingin membaca, tapi saat itu ia mendengar nomornya dipanggil. Ia belum banyak tahu, dan kini pengetahuannya sudah harus diuji. Pantatnya seolah membatu, berat sekali untuk bangkit.

Madeali heran, ia tak melihat orang tua tadi keluar melalui pintu. Di dalam pun si Tua tak ada.
Perawat menyilakannya duduk di depan meja dokter. Dokter itu seorang perempuan berhijab dan berjubah putih, dengan mulut tersembunyi di balik masker. Dia menanya-nanyai Madeali, yang dijawab pemuda itu enteng saja, tak ubahnya menjawab soal-soal yang telah dihapalnya tiap hari selama 23 tahun.

Berhadap-hadapan langsung dengan dokter gigi seperti itu mendesak ingatan Madeali melayang ke masa lalu, saat ia yang ketika itu masih berseragam putih-merah diantar ibunya untuk cabut gigi pertama kalinya; setelah menyuntik gusi Madeali, dokter yang juga bermasker menekan-nekan giginya dengan benda pipih dari besi; “Sakitkah? Sakit?” tanya dokter; Madeali kecil menjawab, “Tidak”, karena memang tidak sakit; tapi saat dokter menarik giginya, Alamak! Madeali mendengar gemerosak akar-akar tercabut dari pohon besar yang entah sejak kapan tumbuh di kerongkongannya; pulang dari sana, timbul keberaniannya mengumumkan kepada teman-temannya bahwa ruang Poli Gigi adalah tempat terbaik untuk uji nyali.

Sejak itu, meski berulang-kali sakit gigi, bahkan membayangkan kembali ke sana pun ia tak sudi. Tapi dua hari lalu, sakit di giginya memanjat naik ke kepala sampai Madeali tak bisa tidur.

“Sungguh beruntung orang yang tak punya ingatan,” Madeali bersungut-sungut saat kembali ke masa kini dan mendengar dokter memandunya ke kursi periksa gigi. Kursi itu mempunyai dudukan yang panjang, tempat kaki bisa selonjoran. Bu Dokter mengatur sandaran kursi sehingga Madeali bisa berbaring. Lalu dokter itu menyerahkan selembar kertas kepadanya untuk ditandatangani. Dengan teliti Madeali membacanya. Sampai di potongan kalimat yang berbunyi ‘…dapat menyebabkan kematian’ pada poin ke-2, dia tertegun. Madeali menengok ke pintu. Dia merasa seakan-akan jantungnya telah lebih dulu kabur ke sana. Karena malu bila tubuhnya ikut kabur dari situ, ia buru-buru menandatangani kertas itu dan mengempaskan punggungnya kembali berbaring.

Bu Dokter menyalakan senter besar yang terhubung dengan badan kursi dan menggerakkan kepala senter mendekati kepala Madeali. Mata Madeali terpicing silau. Cahaya menimpa kelopak matanya, mengilaskan warna kuning yang hangat. Saat itu juga Madeali teringat pada mawar kuning.

Ia mengeratkan pejaman mata, dan mencari-cari mawar itu di benaknya. Segera setelah dokter memasukkan benda metalik entah apa namanya ke mulut Madeali, pemuda itu mendengar lima kali berturut-turut bunyi seperti stapler ber-pletak-pletak. Dia hanya menduga-duga: gigiku mungkin disuntik, berkeliling. Disusul suara pikirannya merengek-rengek: aku harus meninggalkan ini, aku mau lihat mawar kuning! Ia pun mengubek-ubek benaknya, mencari mawar itu.

Lengkung-lengkung garis mahkotanya telah terlihat, dan warna kuning bunga itu telah membayang, saat Madeali diminta berkumur dengan cairan dalam gelas di sebelah kirinya, yang meruapkan bau obat menyengat. Ia membuang kumurannya ke wadah bundar berkisi-kisi di dekatnya, dan melihat seserpih kecil gigi terjatuh, seperti remah kacang, tersangkut di kisi-kisi wadah itu. Mengulang berkumur, dua-tiga serpih gigi pun menyusul. Melihat mereka, Madeali lega. Mungkin sudah selesai, pikirnya.

“Kalau terasa sakit, angkat tangan Anda ya!” kata dokter, memegang alat sejenis pinset.

Bsss!—bunyi simbal mendesis keras di kepala Madeali. Ternyata baru dimulai, pikirnya ketakutan. Secepat yang ia bisa, ia kembali berusaha memikirkan mawar kuning. Lapisan mahkota itu… bergulung ke dalam… berwarna kuning cerah…. Ia merasakan geraham kiri bawahnya dijepit dan ditekan kuat-kuat ke samping, satu-dua-tiga detik, lalu pinset ditarik keluar. Sudah selesai?

Belum juga. Letak geraham itu menimbulkan kesulitan tersendiri bagi Bu Dokter. Gagal pada percobaan pertama, ia memanggil perawat untuk memegangi kedua telinga Madeali, menahan kepalanya. Sialnya, dengan begitu, konser bunyi dalam mulutnya kian jelas didengar Madeali.

Pemuda itu berusaha lebih keras lagi: mawar itu… bermahkota… bergulung-gulung… dan berwarna kuning… ada di sebuah taman… penuh mawar kuning… aku hanya butuh satu… satu saja….

Ia mendengar pinset Bu Dokter kembali menjepit dan menekan gerahamnya. Lekas ia kembali ke mawar kuning. Sungguh beruntung, mawar itu ia temukan tepat saat ia mendengar giginya disentak. Oooh-mawar-kuniiing-aku-mendekatimu-sialaaan!—pekiknya dalam hati. Tarikan di giginya surut. Matanya terbuka.

Bu Dokter menunjukkan gigi yang masih terjepit di pinsetnya, sejengkal dari mata Madeali: bagian bawah gigi itu bercabang dua dan runcing seperti ujung sepit kepiting; bagian atasnya bagai kaldera kuning, kotor, menjijikkan. Itu dia makhluk kecil yang telah membuat dunia kacau, bikin hari serasa perang bagi Madeali. Kini telah terpisah darinya dan sebentar lagi berakhir entah di mana.

Madeali takjub, ternyata tidak sakit sama sekali. Setelah itu, semua berlalu enteng saja. Ia juga sudah lupa mawar kuning. Dokter memasukkan segulung-kecil kasa ke lubang di gusinya. Madeali menerima resep dan manggut-manggut saat dokter menyuruhnya, untuk sementara waktu, tak menggunakan gigi sebelah kiri untuk mengunyah. Madeali ingin berterima kasih, tapi ia sadar kehidupan telah mengubahnya menjadi pendiam betul saat itu. Sebelum beranjak, ia ingin menyalami tangan Bu Dokter, tapi ia merasa itu berlebihan. Akhirnya, ia hanya mengangkat jempolnya, lalu keluar.

Setelah mengambil obat di apotek, ia naik motor ke sekolah. Masuk kelas memberi tugas, dan tiba waktu pulang, ia pulang. Dunia terasa damai meski orang-orang melihat ia tampak murung.
Pada hari Jumat, melihat nafsu makan Madeali, ibunya percaya pemuda itu memang omnivor tulen, bisa makan apa saja, mungkin batu sekalipun. Dan hari Sabtu, benarlah, Madeali makan batu.

Dalam perjalanan pulang sekolah, dari atas motornya ia melihat orang tua yang memberinya mawar kuning duduk bersila di bahu jalan, tanpa alas duduk dan tudung kepala, dengan wajah teduh-segar tanpa keringat, mendongak sambil tersenyum lebar ke arah matahari siang yang panasnya bisa membikin mata menjerit. Bagai tertenung oleh pemandangan itu, Madeali menoleh beberapa lama sehingga telat melihat truk yang mengebut dari depan. Ia terkejut, hilang keseimbangan, motornya terbanting. Madeali terpelanting dengan barisan gigi depan menghantam bebatuan tepi jalan.

Esok harinya, di atas meja dalam kamar rumah sakit tempat Madeali dirawat, tergeletak sebuah koran yang ditinggalkan salah seorang pembesuknya. Berita tentang kecelakaan Madeali terpampang di satu rubrik, dalam sebuah kolom yang pendek, tak lebih dari seratus kata. Berita itu ditindih oleh kolom dengan jumlah kata lebih banyak—disisipi foto pula—mengenai profil seorang petapa pengembara dari suatu negeri yang jauh, yang nama negerinya tak rela dibocorkan oleh yang bersangkutan. Konon, petapa itu adalah murid dari seorang petapa breatharian yang baru-baru itu menggemparkan dunia, dengan kemampuannya bertahan hidup tanpa makan dan minum selama bertahun-tahun.

Tak seorang pun tahu, apakah itu fakta atau bukan. Tapi yang jelas, dari cermin kecil milik ibunya yang tegak di samping koran itu, Madeali menyadari sebuah fakta keras: kini dia punya kemiripan dengan si petapa.

Lelaki yang Bercerita kepada Marinda

Oleh : Yetti A.KA
Jawa Pos, Minggu 25 Desember 2016

“KAU masih mendengarku?”

“Ya, aku mendengarmu.”

“Tapi kau pasti sudah mengantuk.”

“Jika aku tertidur sekali pun, jangan berhenti bercerita.”

***
Aku pernah melihat sebuah lukisan milik temanku, Marinda. Bukan objek lukisan itu—seorang perempuan berbibir terlalu tebal dan merah—yang menjadi perhatianku, melainkan tato kecil di lengannya. Aku melihatnya seperti seekor kupu-kupu, tapi temanku bilang itu sekuntum bunga yang belum mekar. Sampai terakhir bertemu, satu tahun lalu, perihal tato itu tetap kami perdebatkan dan kami tetap pada pendirian masing-masing. Temanku itu baru saja meninggal dunia satu jam lalu. Istrinya mengabari lewat sebuah pesan—tadi aku sempat membacanya ketika kau memutus sambungan ponsel karena mau ke kamar mandi selama sepuluh menit. Mungkin kau bertanya-tanya kenapa aku menyampaikan kabar kematian di saat kita sedang menghadapi sebuah perpisahan menyakitkan, terlebih temanku itu tak ada hubungannya denganmu? Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku tidak terlalu sedih kehilangannya hingga aku harus berbagi denganmu. Namun, mungkin saja aku hanya agak gugup memikirkan bahwa ini perbincangan kita untuk terakhir kali dan setelah ini aku tak akan mendengar suaramu lagi sambil mengingat aku pernah memagut dalam-dalam bibirmu dan apa yang kurasakan kini setara dengan sebuah kematian.

Kau belum tidur, Marinda?

***
Satu hari, ia dan Marinda duduk di pinggir taman yang sepi. Ia baru saja membaca cerita pendek Seno Gumira Adjidarma berjudul Seorang Wanita dengan Tato Kupu-Kupu di Dadanya. Cerita itu begitu berkesan baginya. Ia berkata kepada Marinda, Maukah kau membuat tato kupu-kupu di dadamu?

Wajah Marinda mengeluarkan semburat merah, lalu perempuan itu berkata, Kau mau melukisnya untukku?

Ia tak langsung menjawab pertanyaan Marinda, melainkan melumat bibir kekasihnya yang kenyal dan basah sambil berkata, Tentu saja aku bersedia.

***
Setelah kematian temanku hari ini, Marinda, lukisan itu seolah terpampang lagi di depan mataku dan tato kupu-kupu di lengan perempuan berbibir tebal dan merah, dapat kulihat demikian terang. Seharusnya kau ada di sampingku saat ini. Aku ingin sekali menunjukkan sumber perdebatan panjang aku dan temanku itu kepadamu. Ah, aku mulai bersedih untuk temanku itu. Betapa malang dia yang mati tanpa melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Dan kebenaran itu, Marinda, sekarang menunjukkan dirinya dengan sangat jelas di hadapanku. Kupu-kupu di lengan perempuan itu menaikkan sayapnya! Ia hidup. Ia hendak terbang. Mungkin ia bosan. Lagipula apa enaknya menjadi sebuah tato selama bertahun-tahun di lengan perempuan dalam lukisan.

Bagaimana kupu-kupu di dadamu, serangga itu juga sering terbang dan menghilang beberapa saat dan kembali lagi? Namun, bukankah dadamu itu tempat terindah bagi kupu-kupu dan seharusnya ia tak pergi?

Aku ingin sekali melihat kupu-kupu itu, seperti dulu.

Aku ingin sekali menjadi kupu-kupu di dadamu.

Kau benar-benar tidur, Marinda?

***
Buatlah tato kupu-kupu itu di sini, Marinda menunjuk dada bagian kanan miliknya, tepat di atas payudara yang bulat. Perempuan itu duduk dengan melipat kakinya ke belakang dan menyibakkan semua rambutnya ke bagian kiri kepalanya dan memejamkan mata dan menunggu.

Selama beberapa saat ia terpana menatap dada Marinda. Kemeja putih perempuan muda itu terbuka dari atas hingga sampai ke perutnya yang padat. Ayo, kata Marinda tidak sabar tanpa membuka matanya. Perempuan itu belum pernah merasakan jarum tato. Dari kecil Marinda takut jarum suntik dan rumah sakit. Namun, kini Marinda menunggu dalam kepasrahan. Ditahannya kuat-kuat rasa gemetar. Dibungkamnya rapat-rapat rasa cemas.

Ia tentu saja bukan ahli membuat tato. Sebelum mereka berada di kamar ini, ia telah belajar cara membuat tato kepada teman kuliahnya sekaligus meminjam semua peralatan yang dibutuhkan. Ia hanya akan membuat satu tato seumur hidupnya dan itu tak memerlukan keahlian yang terlalu dalam. Terlebih Marinda bilang, Jangan pikirkan bagus tidaknya, yang penting tanganmulah yang membuatnya.

Tunggu apa lagi, suara Marinda mulai benar-benar tidak sabar. Perempuan itu barangkali khawatir tak sanggup lagi menahan gemetar, tak kuat lagi menanggung cemas.

Ia mengembuskan napas agar lebih tenang. Hati-hati ia menempelkan kertas stensil dengan pola kupu-kupu yang baru selesai ia lukis ke dada Marinda. Gambar itu ia tekan pelan-pelan. Ketika kertas ia tarik kembali, gambar kupu-kupu sudah melekat di dada Marinda. Kupu-kupu hitam dengan sayap kiri yang tampak robek karena proses pemindahan yang tidak sempurna. Ia justru menyukai gambar kupu-kupu dengan sayap seperti itu.

Sekarang aku akan memulainya, ia berbisik ke telinga Marinda.

Marinda tidak menjawab dan tetap memejamkan mata.

Ia menghidupkan mesin tato dan menggerakkannya di kulit dada Marinda yang licin. Marinda meringis. Marinda nyaris menangis.

Ini tidak akan lama, bisiknya sekali lagi sebelum yang terdengar hanya mesin tato itu saja dan sesekali ringisan lembut dari bibir Marinda.

***

Kupu-kupu itu akhirnya kembali dari petualangan singkatnya, Marinda. Aku baru tahu kalau ia kupu-kupu yang ringkih setelah terbang begitu dekat di depan mataku dan dengan cepat masuk lagi ke dalam lukisan dan hinggap di lengan perempuan berbibir tebal dan merah. Sekarang, setelah temanku mati, sesuatu di lengan perempuan dalam lukisan itu tak akan pernah lagi menjadi sekuntum bunga belum mekar. Selamanya ia adalah kupu-kupu. Memikirkan itu, aku ingin sekali tertawa sekaligus menangis. Bagaimana perasaan temanku di sana? Ia mungkin saja berusaha keras ingin hidup lagi demi berteriak di telingaku kalau itu sekuntum bunga belum mekar. Ia pasti sangat membenciku saat ini. Terlebih ia akan marah sekali jika tahu lukisan itu kini hadir dalam wujud amat nyata di depan mataku. Seolah-olah lukisan itu berhasil menerobos pintu rumah temanku yang sudah mati, melepaskan diri dari kurungan rumah yang penuh buku dan tumpukan puntung rokok, dan memilih berada di dekatku. Saat temanku berhasil membeli lukisan itu dari pemiliknya, seorang penyair tua yang murah hati dan pernah berkata bahwa satu ketika ia ingin menjual semua yang ia miliki dan tak mau memiliki apa-apa selain uang untuk ongkos bepergian ke berbagai tempat di hari-hari sebelum kematiannya, aku menyimpan perasaan kalah. Kupikir, aku tak akan pernah punya kesempatan lagi memilikinya. Bukan, bukan lukisan itu yang sedang kami perebutkan. Kami cuma senang bertengkar. Kami terbiasa bersaing untuk hal-hal yang tidak penting bagi orang lain. Namun, temanku itu tak pernah tahu, aku memiliki alasan yang lain dan itu berhubungan dengan kupu-kupu di dadamu, Marinda. Kupu-kupu yang pada hari itu mengepakkan sayap persis setelah aku menyelesaikan goresan terakhir di ujung sayapnya. Kupu-kupu yang selalu hidup dalam kepalaku.

***
Marinda masih memejamkan mata. Di sudut mata itu, keluar air dalam bentuknya yang tipis.

“Belum selesai juga?” tanya Marinda.

Ia tidak segera menjawab Marinda karena terkesiap memandangi kupu-kupu yang mengepakkan sayap dan keluar dari kulit dada perempuan itu. Marinda masih memejamkan mata dan tak tahu apa-apa. Ia berbisik ke telinga Marinda, Jangan dulu buka matamu. Ia ingin menyaksikan kejadian itu tanpa diganggu rasa panik kekasihnya. Ia tahu Marinda mudah sekali histeris jika berhadapan kejadian-kejadian tidak biasa, sebagaimana bila perempan itu melihat darah.

Marinda patuh. Ia tak membuka matanya. Juga ketika kupu-kupu itu kembali masuk ke dalam kulitnya. Perempuan itu tak merasakan apa-apa. Marinda tidak tahu apa-apa.

Sekarang bukalah, katanya. Ia memperhatikan mata Marinda yang pelan-pelan terbuka. Lalu beralih ke seekor kupu-kupu yang menempel diam di dada perempuan itu.

***
Aku tahu kau sudah tidur. Namun, seperti permintaanmu, aku akan tetap bercerita hingga jelang menit-menit keberangkatanku, sampai aku memang tak punya kesempatan lagi melakukannya dan kemudian aku akan mulai berdamai dengan diriku sendiri bahwa tiba saatnya bagi kita untuk kembali berpisah dan aku maupun kau tidak tahu apa bisa bertemu di lain waktu atau malah tak akan pernah.

Sepuluh menit lagi, pengumuman keberangkatan dari petugas bandara akan segera terdengar—itu kalau tak ada penundaan. Kita tak punya waktu banyak lagi sekarang—dan sayangnya kau tertidur. Karena itu, Marinda, aku mau menutup ceritaku tentang tato kupu-kupu di lengan perempuan dalam lukisan kepadamu sebelum kita sampai pada kesepakatan untuk tak saling menghubungi demi kebaikan bersama, kita yang harus menyimpan semua masa lalu sedalam-dalamnya.

Lukisan itu sebenarnya milikku. Teman yang kuceritakan itu hanya karanganku saja dan tentunya tidak ada temanku yang mati hari ini. Tak ada tato kupu-kupu atau kuntum bunga belum mekar di lengan perempuan dalam lukisan itu. Tak ada pertengkaran-pertengkaran karenanya.

Hanya saja, kau pasti tahu persis kenapa aku senang membuat kisah tentang kupu-kupu itu, bukan?

Kalau saja bisa, aku ingin kau memberiku kesempatan sekali lagi untuk melihat tato kupu-kupu di dadamu itu—satu-satunya tato yang kubuat di dada seorang perempuan. Maka, bisakah kau bangun sebelum aku berangkat?

Tolong, jawablah, Marinda.

***
Marinda terbangun dengan ponsel masih menempel di telinga dan bayi kecil yang terlelap di sampingnya. Ia tak mendengar suara apa-apa lagi. Malam hening. Ia mengambil ponsel itu dan menyentuh layarnya. Sebuah pesan. Marinda membukanya.

Aku mencintaimu.

Dengan tergesa Marinda membalas pesan: Ayo, telepon lagi, katakan kalau kau mencintaiku.

Tak ada balasan. Satu menit berlalu. Tak ada balasan.

Marinda memperhatikan waktu pesan terakhir itu dikirim kepadanya. Dua puluh menit yang lalu. Air merebak di mata Marinda. Ia terlambat. Lelaki itu sudah terbang meninggalkannya dan kembali ke sebuah rumah dan perempuan yang menantinya serta dua anak lelaki yang tidak sabaran ingin pergi bermain ski di liburan musim dingin.

Dengan perasaan tidak menentu, Marinda meringkuk sambil meraba gambar seekor kupu-kupu di dadanya. Sesaat ia terdiam. Kemudian, cepat-cepat ia bangun dan dibukanya baju tidur tipis yang melekat di tubuhnya. Mata Marinda menatap tak berkedip. Di dadanya, ia melihat seekor kupu-kupu tengah hinggap di kuntum bunga baru mekar. (*)

Perempuan Bulan Perak

Oleh : Indra Tranggono
Jawa Pos, Minggu 1 Januari 2017

MMY sering bercerita, dirinya selalu dikejar-kejar genderuwo. Mahluk halus berwujud raksasa itu menatap Ommy dengan mata penuh kobaran api. Lalu, raksasa itu merenggut tubuh Ommy. Tangan-tangannya mencekik leher perempuan muda itu. Namun, Ommy bisa melepaskan diri dan berlari sekuat tenaga. Berlari kuat-kuat hingga dua kakinya menebah-nebah ranjang. Dia pun terbangun dengan penuh ketakutan.

Mimpi buram itu selalu datang dalam tidurmu Ommy, sejak kamu mengalami mimpi indah. Ada bulan perak sebesar melon, yang terbuat dari cahaya, meluncur dari langit dan mendarat di atas kepalamu. Bulan itu mengikuti ke mana kamu pergi, hingga kamu tak takut lagi pada kegelapan.

Kamu senang bermain-main bersama bulan. Tubuh dan kepalamu bergerak memutar, melukis langit dengan cahaya. Kamu pun ingat lampu sokle besar yang sering dinyalakan di dalam pasar malam. Lampu itu juga berputar-putar menggores-gores langit. Ketika bocah, kamu selalu minta diajak ayah dan ibumu mengunjungi pasar malam. Dan, tempat pertama yang kamu tuju adalah lampu sokle itu.

Dari kegelapan yang terasa memadat, mendadak muncul sosok besar dan hitam, menyerang kamu. Genderuwo itu berusaha merebut bulan perak yang bertengger di atas kepalamu. Tangannya berusaha meraih bulan, tapi selalu gagal. Kamu bergerak lincah, menguasai setiap lini ruang. Namun, genderuwo itu terus menyerang. Tubuhmu diterjangnya hingga jatuh, lalu genderuwo itu meringkus, memukuli, dan mencekikmu.

Untunglah kamu berhasil menendang mahluk itu. Genderuwo terhuyung, tapi dengan cepat bisa menguasai keseimbangan tubuhnya. Ia kembali menyerang. Bulan perak sebesar melon pun menggelinding dari kepalamu. Genderuwo langsung merebut dan menelannya. Dan, kamu melihat bulan perak itu menggelinding di dalam rongga perut genderuwo. Beberapa saat kemudian, muncul rombongan genderuwo yang meringkusmu. Kamu pun terbangun dengan wajah ketakutan. Pucat.

***

Ommy, apakah mimpi burukmu itu kini benar-benar terjadi?

Aku masih mencium aroma semangatmu dari kalimat-kalimat pesan pendek yang kau kirim pagi itu. Tim Anti Makar Menangkapku di rumah kost, menjelang subuh. Mohon dukunganmu, Mas.

Huruf-huruf terpahat di layar handphone itu menikam mripatku. Menekan dadaku. Memacu jantungku berdegup. Aku coba meneleponmu, tapi handphone-mu off. Mungkin, polisi-polisi itu sudah menyitanya. Mungkin.

Ommy, pagi tadi aku tak sempat menyelesaikan sarapanku. Nasi goreng dan telur dadar kubiarkan merana. Kopi kubiarkan mendingin. Aku melihat dirimu dalam berita pagi di sebuah stasiun teve yang jadi corong pemerintah.

Lampu-lampu kamera teve menumpahkan cahaya ke wajahmu yang manis (betapa penangkapanmu sangat dipersiapkan oleh polisi). Engkau tersenyum. Matamu tajam menatap. Tak ada guratan ketakutan sedikit pun.

“Kami telah menangkap Saudari OBP atas dugaan makar,” ujar seorang polisi berwajah bersih, dengan ekspresi sedingin mesin.

Ya, aku tahu OBP adalah inisialmu: Ommy Banowati Pramesti. Tapi tuduhan makar itu?

Kamu tersenyum. Wartawan-wartawan itu heran. Kamu begitu rileks menghadapi tuduhan itu. Tak gentar sedikit pun.

“Negara sudah putus asa bikin rakyat sejahtera. Dan mereka capek juga setiap hari diejek. Mereka butuh memompa kewibawaan dan menciptakan hiburan. Ini tak lebih dari pentas dagelan…” Kamu tertawa.

Siangnya, kamu dan beberapa kawanmu tampil di Breaking News. “Polisi yakin 15 orang yang terdiri dari aktivis, dosen, tokoh buruh, tokoh tani, politisi, dan seniman telah melakukan permufakatan jahat hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Polisi sudah mengantongi bukti-bukti,” turur pembaca berita itu.

Lalu muncul pernyataan tokoh politik Dr Brukut Subrakot SH dari Partai Gandemarem alias Gerakan Demokrasi Masyarakat Reformis Militan. Dia bilang, “Kawan-kawan yang mau makar itu konyol. Konyol! Mosok mereka menuntut kita kembali ke konstitusi yang asli, baheula! Mana ada yang asli sih di bawah matahari ini, Kawan. Realistislah, Kawan. Hidup ini dinamis. Menurut aku, konstitusi yang kini sudah diamandemen itu sangat menjawab tantangan global. Berpihak ke modal asing? Ah suka-suka yang berkuasalah…”

Kumatikan televisi. Mencoba meneleponmu, Ommy. Tapi, tidak sambung.

***
Ommy, kulihat di televisi wajahmu sangat lelah. Kuyu. Mata itu, ah mata itu sangat rindu istirah. Namun kamu selalu menyangkal jeritan tubuh yang lelah.

Ommy, setiap hari kamu hanya ambil tiga jam untuk tidur. Tidur? Tidak juga. Mungkin, istilah yang lebih tepat adalah melupakan penat dan kantuk. Kamu pernah bilang, sudah hampir setahun kamu tak pernah tidur. Mripatmu selalu tampak merah ketika kamu berdiskusi, merencanakan aksi, menggalang dukungan buruh, petani, dan orangorang yang kamu sebut “dicelakakan oleh sistem”.

Ommy, kamu selalu mengusik negara yang setiap hari menggelar pesta bersama mereka yang kamu sebut “orang-orang gemuk, berperut besar dan bertaring tajam”. Negara pun membentakmu. Menumpah sumpah serapah bahkan menamparmu. Mereka juga mengerahkan alatalatnya untuk mengeroyok kamu dan kawan-kawan seperjuanganmu. Tapi kamu tak bergidik, apalagi gigrik.

Kamu juga geli, di antara rombongan alat-alat negara itu –kamu menyebut mereka mesin– ternyata ada beberapa orang yang kamu kenal. Dulu sebelum rezim diktator jatuh, mereka adalah kawan seperjuanganmu.

“Kelaparan dan impian untuk bisa hidup mewah telah menjadi remote yang menentukan pilihan jalan hidup setiap orang. Termasuk menjadi badut-badut sirkus kekuasaan,” begitu kamu pernah bilang dalam sebuah percakapan di tengah rinai gerimis, ditemani dua cangkir kopi, ketela rebus, nasi hangat, tempe goreng dan kangkung yang ditumis.

Kamu pun tidak kaget ketika polisi menangkapmu berdasarkan bukti-bukti rekaman diskusi-diskusi dan aksi demonstrasimu. Data-data itu dikumpulkan lalu dilaporkan kepada polisi justru oleh kawan-kawanmu sendiri. Mereka, dengan masih mengenakan topeng-topeng aktivis, menyusup dalam lingkaran gerakanmu. Kamu dan teman-temanmu tak pernah curiga. Bahkan kalian bisa tertawa bersama-sama, saling meledek ketika mengulik kenangan-kenangan lama. Kenangan-kenangan yang penuh asap gas air mata, popor bedil, dan desing mesiu ketika kalian turut menurunkan seorang tiran, puluhan tahun lalu. Ya, kalian mengenang semua itu: menduduki gedung parlemen dan memaksa seorang tiran turun.

Namun, tiran yang jatuh telah diganti tiran lainnya. Kamu dan teman-temanmu merasa kecelik. Ternyata gelombang perlawanan yang kalian turut menciptakan itu, tak lebih sirkus konyol yang hanya melahirkan aktor-aktor teater gadungan.

“Janji mereka untuk memperkuat posisi tawar rakyat ternyata tak lebih dari tipu muslihat. Gelombang kebebasan itu hanya membuka jalan bagi masuknya genderuwogenderuwo bule. Dan, bersama kaum genderuwo pribumi, mereka mengubah undang-undang jadi kumpulan mantera yang disadap dari desis ular piton, aum harimau, lolong serigala yang dicampur buas buaya, sengat ketonggeng, keperkasaan lengan-lengan gurita. Mantera itu mengisap seluruh kekayaan negara kita, serupa vacuum cleaner yang selalu berdengung tak kenal waktu,” ujarmu berapi-api, malam itu, hingga kopi yang sudah dingin terasa hangat kembali.

Matamu berkilat-kilat. Aku merasakan ada api berkobar di rongga dadamu. “Mereka membuat patung penguasa bijak bestari, menciptakan banyak mitos tentang negeri yang tata titi tentrem kerta raharjo, subur makmur, gemah ripah loh jinawi, meng-copy-paste suluk para dalang.” Kamu tersenyum sinis. Pahit.

Kamu nerosos lagi, “Mulut mereka berbuih mengutip katakata wasiat nenek-moyang atau pitutur leluhur. Namun, mereka juga tetap patuh pada titah kaum genderuwo. Selalu ada sesaji. Selalu ada tumbal.”

Gerimis telah berubah menjadi hujan. Suaramu makin keras, “ Dalam riuh talu gamelan kelangenan yang menggema dari istana negara, diam-diam kaum genderuwo itu menanam modal di mana-mana serupa menanam patok-patok penguasaan atas negara. Tak ada sisa ruang bagi para miskin papa yang hanya bisa membayangkan rasa kenyang…” Matamu basah.

***
Ommy, aku masih ingat pertama kita bertemu. Kamu datang di kantor koranku. Kepada penerima tamu kamu bilang ingin bertemu langsung dengan pemegang desk opini. Dan, matamu menatapku nanar, ketika duduk di ruang tamu. Kamu mengkritik tulisan-tulisan yang dimuat koranku. “Terlalu manis dan lembek,” ujarmu ketus.

Tentu saja aku tersengat. Tersinggung. Namun, aku tetap tenang. Aku pun, dengan sedikit dongkol, membiarkan kamu menasihatiku. Koran harus begini dan begitu. Intinya, kamu berharap, dengan setengah menekan, koranku harus kritis. Aku mengangguk. Tak lagi tersinggung apalagi marah. Bukankah aku juga pernah jadi anak muda seperti kamu yang tangannya selalu mengepal?

Esoknya, kamu datang di kantorku lagi. Tapi, wajahmu tidak sangar lagi. Tanpa banyak bicara kamu menyodorkan tulisan. Kamu tersipu bilang, “Siapa tahu tulisan ini layak dimuat di koran Mas Garda.”

“Oke, nanti aku baca. Tapi tolong kamu kirim soft copy-nya.”

Malamnya, kubaca tulisanmu tentang pentingnya gerakan kaum muda yang kritis, visioner dan jelas sasarannya. Tulisan itu galak, seperti kuduga. Tapi cerdas. Referensimu cukup kaya. Angle yang kamu ambil cukup unik, menarik. Bahasamu sangat efektif. Diksimu jitu dan apik. Menjotos kesadaran. Inspiratif.

Tulisanmu kumuat. Muncul banyak tanggapan. Rubrik opini koranku jadi terasa berdenyut.

Aku pun meneleponmu. Minta lagi tulisan. Namun, kamu bilang sedang bikin aksi membela para petani yang menolak pembangunan pabrik semen.

“Kamu kan bisa nulis dengan laptop, lalu di-email?”

“Ah, sulit Mas. Tak sempat. Kami sekarang sedang mendatangi gubernur. Doakan desakan kami berhasil, Mas. Kalau pabrik semen itu jadi berdiri, para petani ini mau hidup dari mana? Gunung Kerendeng itu mau digempur. Ekologinya pasti rusak. Sungai-sungai mengering. Sawah-sawah pasti mengelupas dari tanah,” begitu kamu bilang, berapi-api.

“Oke. Teruskan demonstrasi. Apa boleh wartawanku nanti wawancara kamu?”

“Bisa-bisa. Wah senang sekali.”

Koran kami pun memuat hasil wawancara denganmu. Ternyata kamu menjadi ketua Aliansi Rakyat Menolak Pabrik Semen.

Ommy, setelah perkenalan yang sangat mengesankan itu, kita pun sering bertemu. Kamu sering mengajakku nonton teater, pameran, hadiri acara ceramah tokoh dan mengajak makan jagung bakar di alun-alun atau minum kopi jos di utara stasiun. Kamu tak suka kafe. Terlalu borjuistik, katamu. Kamu pun sering mengundangku dalam diskusi bersama kawan-kawanmu. Diskusi itu selalu penuh api.

***
Cukup lama kami tak saling kontak. Aku mencoba menelepon Ommy. Dia ternyata sudah agak lama berada di ibu kota. Bersama kawan-kawannya dia merancang gerakan kembali ke konstitusi yang asli. Alasannya, undang-undang yang telah diamandemen berkali-kali itu hanya memihak kepentingan asing.

“He, kamu mesti hati-hati. Kamu sudah menyentuh pusat syaraf kekuasaan,” ujarku cemas.

“Tenang Mas. Kupikir ini kritik biasa.”

“Ommy, kayaknya kuping rezim penguasa mulai gampang merah dan panas. Bukan tidak mungkin, dia berubah galak. Hallo… halloooo… hallo…”

Tak ada jawaban dari Ommy. Aku mencoba kembali mengontaknya. Tapi nihil. Akhirnya aku bertemu dengan Ommy melalui berita pagi. Televisi memberitakan penangkapan dia dan kawan-kawan atas tuduhan makar.

Wajah Ommy tampak tenang. Tatapan matanya nanar. Kata-katanya tetap galak. Namun senyumnya tetap manis. Di balik wajahnya yang tampak kuyu karena kurang tidur, kecantikannya masih tampak kuat terpahat.

Aku masih mencium aroma keringat jiwamu, Ommy. Aroma jiwa anak muda yang selalu gelisah melihat orangorang kecil dicekik kaum genderuwo.

Ommy, kamu terlalu muda untuk berurusan dengan kaum genderuwo. Namun, kamu sudah memilih jalan itu, jalan panjang nan gelap serta dipenuhi genderuwo yang berdiam dalam setiap kristal-kristal udara.

Ommy, hari-harimu kini dirampas petugas interogasi. Tidurmu jadi terlalu pendek, hingga tak bisa menikmati tarian cahaya bulan yang kau mainkan setiap malam dalam mimpi-mimpimu. Ya, bulan perak sebesar melon itu kini telah ditelan sang genderuwo. Bulan itu mengapung di dalam perut raksasa itu… ***

Saat Maut Batal Menjemput

Oleh : Radhar Panca Dahana
Kompas, Minggu 12 Maret 2017

AKU tahu, di tiap “sakit itu”, “tak siapa pun di situ”. Kesendirian, kadangkala juga sebuah kesunyian, memang adalah watak sakit yang sebenarnya. Tapi tidak kali ini. “Sakit ini”, rasa sakit yang ada sekarang ini, bahkan “aku pun tidak di sini”. Entah kenapa. Aku belum paham, apakah ini hikmah atau jati diri sakit yang sesungguhnya. Yang melampaui kesadaran biologis bahkan kepekaan psikologisku. Ah… aku…aku sesungguhnya tidak cemas pada “sakit ini atau itu”, aku juga tidak peduli ini watak atau jati diri sakit yang sesungguhnya atau bukan. Apa yang kucemaskan hanyalah kesadaran dan kepekaan itu. Adakah aku masih memilikinya?

AKU mencoba paham, jangan-jangan aku sudah “mengatasi” sakit itu, atau ini keadaan yang “meng-atas-i” sakit ini? Aku mencoba sekuatnya untuk merasakan, menghayati, sebagaimana biasanya sakit semacam ini datang padaku. Tapi aneh, bahkan ajaib, untuk pertama kali aku tidak bisa mempekerjakan kesadaran fisiologis juga kepekaan psikologisku. Akal? Sejak mula sebenarnya sudah tidak bekerja. Ia berhenti dengan sendirinya. Ia bukan lagi sentrum atau pusat di mana seluruh kapasitas berbicara tubuh dan perasaanku ditentukan. Akal adalah bagian yang lebih cepat mati.

Mati? Jangan-jangan tak hanya akalku. Menurut ukuran medis di Amerika Serikat yang kutahu, kematian (biologis setidaknya) ditentukan oleh daya kerja otak, sebagai bagian paling sentral dari kehidupan (yang mereka percaya, tentu saja). Sebagai orang yang bukan-Amerika, sekurangnya menolak menjadi bagian dari sejarah peradaban mereka, aku tidak begitu peduli atau tergantung pada otak alias akal. Aku hidup dengan mengoperasikan secara lebih kuat daya kerja fisik dan mental-emosional. Katakanlah secara sempit dan reduktif, refleks dan rasa.

Begitupun kali ini, di tingkat “sakit ini”. Seluruh daya kukerahkan untuk mempekerjakan kekuatan, ilmu hingga kesadaran biologis dan psikisku. Namun sekian lama, sekian waktu yang kuanggap lebih dari cukup, aku tak merasakan apa-apa, tak menyadari apa-apa. Apa tubuh dan emosiku sudah tidak bekerja lagi? Atau ia mati akibat kematian otakku? Tidak. Tubuh dan emosi adalah ilmu dan kesadaran, budaya dan peradaban tersendiri, kadang lebih kuat dari akal.

Tapi kini keduanya diam, sunyi sendiri. Apakah mereka pun mati? Apa artinya sesungguhnya sakit ini adalah mati yang sejati? Namun mengapa aku masih bisa melihat? Dengan penglihatan apa, dengan mata yang mana? Memang, pemandangan yang kulihat berbeda dari biasa. Langit, awan dan bintang misalnya nampak hanya sebagai kejembaran atau keluasan yang tak membutuhkan tepi bahkan isi. Kekosongan ini memenuhi pandang, bahkan mataku. Bahkan seluruh diriku kini seakan menjadi mata. Mata apa ini? Mataku yang mana? Mata siapa?

Kosong ini memadati aku seperti tenaga yang terus mengumpul tiada henti, dengan daya atau kekuatan tak terperi. Aku seperti noktah dengan gravitasi terbesar yang segera akan menciptakan bang, semacam ledakan yang sangat hebat. Seperti ereksi yang tak mungkin ditahan oleh kejadian atau perasaan apa pun. Beginikah kematian, puncak semua kesakitan, melenyapkan keseluruhan diri dengan ledakan besar untuk mengisi kosong yang penuh ini? Bagaimana aku sanggup menanggungnya? Tidak…tidak aku tak sanggup, Tuhan.

“Memang…bagaimana kau sanggup? Kau cuma manusia…cuma.”

“Betul. Apa daya manusia di keluasan, kepenuhan semesta.”

“Kamu bukan apa-apa…”

“Betul aku bukan apa-apa.”

“Lalu, aku apa?”

“Kamu sekadar mata.”

“Mata? Maksudmu?”

“Kamu hanya penglihatan. Hanya bisa melihat. Mungkin memahami, sedikit. Tapi tak bisa menyentuh…merasakan, memiliki…menciptakan, apalagi.”

“Oh…betul. Tapi mata ini saja sudah begitu luar biasa. Hingga apa yang kulihat tak mampu menangkapnya, menyimpan atau mencernanya. Tak ada sel otak manapun, bahkan kata, huruf sekalipun dapat tersusun untuk memahami semua…semua yang ada pada mataku saat ini.”

“Inilah kenyataan kedua. Kenyataan yang harus kau baca.”

“Harus kubaca? Melihat pun aku tak bisa seluruhnya.”

“Apa kamu beragama?”

“Tentu saja.”

“Pernahkah kau membaca kitab-kitab dalam agamamu?”

“Tentu.”

“Untuk apa?”

“Kewajiban.”

“Apa tujuannya?”

“Ya…memahami, isinya.”

“Pahamkah kamu?”

“….Saya tak tahu, tak bisa menilai.”

“Apa sebenarnya paham itu?”

“Aku tak mengerti maksudmu…?”

“Paham itu bukan melulu mengerti arti, tersirat atau tersurat.”

….

“Bukan sesuatu yang teranalisa, tersimpan dan tercerna dalam 1.300 cc isi otakmu. Bukan hal yang melulu akal.”

“Maksudmu…”

“Huruf terlalu terbatas dan miskin, bagi paham yang sebenarnya. Bagi kenyataan yang terlalu besar untuk tertangkap dan dicerna indera. Seluas apa pun akal dan imajinasi, ia hanya sungai di samudera hidup sesungguhnya.”

….

“Sesungguhnya paham harus terjadi di seluruh bagian dirimu.”

“Bukan hanya pikiran?”

“Jantung, jempol, mata, rambut, tungkai, usus, batin, emosi, semua.”

“Bagaimana…?”

“Pertanyaannya keliru. Jawaban pasti juga salah. Berhentilah hidup hanya dengan akal. Tubuhmu terlalu hebat hanya untuk diperintah, diakali akal.”

“Sungguh…aku tak paham.”

“Keluarlah dari huruf. Temui kenyataan dan hidupmu sebenarnya, dengan seluruh yang ada dalam dirimu. Dapatkanlah ilmu dalam jiwamu, dalam batinmu, dalam betismu, dalam jakunmu, gigimu, dalam langkahmu…”

“Bagaimana…bisa?”

“Tidak akan bisa. Karena kamu sudah terjebak sejak dini. Dalam huruf.”

“Tapi tulisan, itulah kebudayaan, kemajuan manusia, hidup sebenarnya?”

“Kebudayaan yang membuat keliru manusia, begitu lama.” Bibir misteri itu tersenyum, membuat langit terbuka dan seperti sebuah mata mengintip di baliknya.

“Hah? Jadi…”

“Jadilah mata sesungguhnya, untuk membaca…”

“Membaca apa? Melihat pun tak bisa.”

“Karena kau merasa ini matamu yang dulu, mata yang biasa, di kepala.”

“Maksudmu…ini mata yang lain lagi? Mata hati begitu?”

“Mata seluruh dirimu.”

“Diri yang menjadi mata?”

….

“Mata sebenarnya mata?”

….

“Mata yang melihat nyata yang sebenarnya nyata?”

Tersenyum lagi.

Kali ini langit lenyap. Semesta kosong, suwung. Aku tak dimana, tapi di sana. Semua senyum semata.

***
SEJAK tadi, ya sejak tadi, aku berdialog. Begitu saja. Tanpa kesadaran, seperti dengan diri sendiri, seperti mimpi yang menguap. Begitu saja. Tapi…yang ini, bukan mimpi. Di depan mataku kini muncul satu wajah. Bukan ilusi atau fana. Nyata sebenarnya nyata. Wanita pula. Wanita yang tersenyum. Ya, senyum yang tadi. Senyum yang seperti ironik, mengejek, juga senang dan bahagia karena jawaban-jawaban terakhirku tadi? Monalisa?

Bukan. Ia lebih sempurna, jauh lebih indah, terlebih kedalaman samudera di balik pandangannya. Ia memandangku dengan cara yang membuatmu tak berdaya karena ia memenuhi seluruh kosong yang sebelumnya memadatiku. Sinar matanya seperti riwayat jutaan tahun peradaban manusia, menukik ke bagian terdalam hati, merenggut dan menenggelamkanku, untuk selamanya. Untuk selamanya.

Mengapa? Karena aku merasa seperti mendapat bantalan tidur yang tidak memberi sedikit pun rasa ingin untuk bangun. Aku henyak, seperti duduk di pelaminan Adam.

“Apa kamu Eva?”

“Aku adalah semua hawa yang kau butuhkan untuk kosongmu.”

Ah…kalimat itu diakhiri oleh nafas yang menghembuskan udara dimana molekul-molekul penyusunnya bukan hanya menghidupkan makhluk, tapi juga benda mati. Inilah nafas Kun, benih yang menghidupkan. Begitu pun aku. Barang mati karena sakit ini.

Dan apa yang dilakukan wanita sepenuh semesta di hadapanku ini selanjutnya, adalah mimpi semua lelaki dari masa paling purba. Termasuk, tentu saja, penderitaan lelaki yang sepanjang sejarah kebudayaannya sambil berurai airmata harus menindas perempuan karena inferioritasnya di hadapan perempuan. Wanita ini membebaskanku. Menjadikanku lelaki sesungguhnya lelaki, memberi rasa bangga dan penghormatan sesungguhnya. Menjadi manusia sempurna dalam inferioritasnya.

Ia meladeniku jauh lebih baik dari cara terbaikku untuk meladeninya. Ia mengasihiku jauh lebih indah ketimbang cinta termulia yang kurasa dapat kuberikan padanya. Ia melengkapi semua yang kosong seperti melesapnya air ke celah rendah manapun yang ia lewati. Tanpa pamrih, apalagi prasangka. Aku sungguh merasa menjadi lebih manusia, manusia-sempurna ketika ia membiarkanku membaca, mengenali dan memahaminya lebih dalam.

“Ternyata kamu ada memang untuk menjadi bacaan terbaikku.”

Ia tersenyum.

“Menjadi pintu terbaik atau bahkan satu-satunya untuk memahami makna dari semesta tak terkatakan ini.”

Ia memeluk.

“Eva…kamu bukan hanya potongan yang melengkapi, tapi memang kesempurnaan Itu sendiri.”

Ia mencium.

“Eva…tetaplah di sini. Selamanya. Atau kau akan membuatku jadi puing hina, sia-sia.”

Ia menggeluti seluruh inci dan saat hidupku, menciptakan kenyamanan yang bahkan nyawa tak mampu membayarnya. Aku tak kuat menahan airmata untuk kebahagiaan surgawi ini. Eva…kaulah surga sesungguhnya. Aku tak membutuhkan lagi apel, buah apa pun, pohon apa pun, karena kau pohon dan buah itu yang sebenarnya. Tolong, jangan renggut dirimu dariku, renggut aku dalam dirimu.

Ya Tuhan, mengapa Kau memberi nikmat yang begitu berlebih ini. Jangan…jangan, Tuhan. Janganlah berlebih begini, karena pasti aku tak mampu menanggung bayi yang pasti lahir dari surga yang kumiliki ini, yakni bayi kecemasan. Cemas karena Kaulah yang menghadirkan dan meluputkan surga…Eva, wanita bagi semua Adam ini.

“Eva…kamu dengar itu?”

Hmm…ia memagutku.

“Eva, dengar. Dengar ketakutanku itu?”

Hmmhh…ia merasuk ke seluruh celah kenikmatan dan menutup seluruh pandang.

“Eva…ehh…jangan kamu pergi…ok?”

Ia tak bersuara, seperti kebisuan perempuan mencipta peradaban manusia pada intinya.

“Eva…ehhh…”

….

“Ehhh…ehhhh….”

Ya Tuhan, maaf…maaf, tak mampu aku menanggung kebahagiaan seperti ini. Pluk… Ada tetes, ya airmata yang jatuh. Tapi bukan punyaku.

“Eva…”

Pluk…

“Kamu menangis?”

Langit basah, semesta pun samudera airmata.

“Mengapa…mengapa menangis?”

Ia hanya bisu. Tapi matanya seperti dulu. Dengan laut yang lebih dalam, sehingga tak ada malaikat maupun iblis mampu menjangkaunya. “Eva….”

Aku tak tahu apa yang terjadi. Dengan muka yang kuyup…entah sedih atau gembira seperti terlukis di bibirnya…wanita segala nabi itu seperti gambar yang merabun menjelang magrib tiba. Menjauh.

“Mengapa…mengapa Eva?”

Ia tetap menjauh. Tangan tak menggapai, jiwa pun tak sampai. Kecemasan itu bertamu selekas dan sekuat kepergian itu. Apa yang terjadi?

“Mengapa…mengapa, Tuhan?”

Aku ingin berteriak. Tapi Eva seperti lenyap juga sebagai nama. Berganti ketakutan yang datang seperti kepepatan dimana satu elemen udara pun tak tercipta untuk menghasilkan nafas. Semua terasa menghimpit dan sesak. Bahkan airmata tak tersisa. Hanya sakit. Ya rasa “sakit itu”. “Sakit ini” pun bersatu.

Tuhan.

***
Gelap.

Dengan putus asa atau frustrasi yang begitu genap, aku memejamkan mata. Menghilang pandang. Aku ingin buta. Aku buta. Aku tak perlu mata. Betapa hikmah besar itu tak tertanggungkan dalam kekerdilan manusiaku. Gelap…cuma gelap yang kita rasa mampu menghindari kita dari cemas dan takut yang luar biasa.

Namun kau pun paham. Itu sia-sia, tipudaya percuma. Gelap justru mendatangkan cemas yang memalu hatiku kian pilu. Tuhan, betapa sakitnya. Betapa sunyi dan sendirinya, sakit seperti ini. Kenapa gelap tak mampu menutupinya, kenapa cahaya juga tak kuasa mengusirnya. Tuhan, apa mesti kuperbuat? Masihkah aku membutuhkan mata. Mata mana lagi?

“Bukalah matamu, Adam.”

?

“Hei bukalah matamu!”

?!! Eva?

“Eva siapa? Buka matamu, jangan bersandiwara lagi. Eva siapa?”

Plak!

Aku merasakan sakit, kali ini di pipi. Pipi?

Plak, plak!

Ya, pipiku terasa perih, sakit bener, sehingga seperti refleks aku membuka mata.

“Apa yang kamu pikirkan, lamunkan? Perempuan itu lagi? Eva sekarang, namanya?”

Sekarang aku benar membuka mata, memandang. Dan sebuah pandangan di depan menghadang. Pandangan kenyataan: seorang perempuan hampir empat puluhan, dengan tubuh yang coba ia pelihara dengan baik. Tegak di depanku, dengan mata tajam, berupaya lebih tajam dari pisau Swiss, tapi tak berhasil karena keluar negeri manapun ia tak pernah.

Ya, aku kenali sekali siapa yang menghadang pandangku itu. Dia perempuan yang puluhan tahun ini bersamaku. Istri, istilah umumnya orang. Perempuan yang sudah memberi empat anak, dan menurut dia, membantuku untuk mendapatkan jabatan sebagai general manager di perusahaan exim tempatku bekerja sekarang.

Ia sungguh memandangku dengan serius, dan sinarnya seperti cahaya LED TV terbaruku, atau suratkabar, atau buku sejarah yang mengisahkan sejarah perempuan dengan riwayat-riwayat dahsyat tapi mengalami penindasan permanen oleh kebudayaan yang menurut mereka diciptakan lelaki. Dan aku adalah kumpeni yang dilawan habis-habisan oleh keadaban padat dendam itu.

“Dik…”

“Tidak perlu dakdik dakdik…aku mau kamu jawab jujur saja…siapa Eva?”

“Aku gak tahu, Dik…gak ngerti.”

Plak!!

“Dik!”

Bibir perempuan itu tidak perlu monyong untuk cemberut atau marah. Tapi monyongnya itu, yang ia sebut seksi, memang menjadi penggoda banyak pria saat aku dulu coba memacarinya. Aku sukses. Ya menikahi dia. Menikahi sejarah masa depan yang hampir membuatku menyesal menjadi lelaki.

Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti animasi yang berulang, suara berdebam yang melewati tiga dinding tetangga akan menjadi musik pembuka saat ia membanting pintu kamar tidur. Lalu seharian ia tidak keluar. Dan keluar beberapa lama setelah aku keluar rumah menjalani general managerku.

Bila aku tidak bisa memberi jawaban memuaskan mengenai “siapa Eva”, tragik masa depan itu terjadi lagi, jadi semacam tradisi. Aku bangun menjelang subuh, bebenah sendiri, membuat sarapan sendiri, makan sendiri, melap mobil sendiri, memanaskannya, dan berangkat sendiri, tanpa satu pun bisa kusalami.

Sampai bila? Siapa bisa menerka. Karena hingga bila aku bisa menjawab pertanyaan absurd itu: “siapa Eva”? Aku memang tak mengenalnya. Tahu atau ingat pun tak. Hanya seolah ia bayangan yang sangat buram yang pernah menjadi bagian ingatan dari kulit, daging, kepala, hingga mataku. Tapi siapa?

Sesungguhnya aku tidak berani mengorek lebih dalam lagi. Memang masih ada getar aneh yang membuat kudukku meremang, seperti saat aku melihat Jennifer Lawrence berakting atau Adele bernyanyi. Hanya ada satu perasaan gelap sembunyi di situ, ketakutan mengerikan yang tak mampu aku tanggungkan. Apa? Siapa? Mautkah jangan-jangan itu?

Aku tak berani spekulasi lebih jauh. Saat makan siang tiba. Aku membuka tas dan mengeluarkan kotak plastik dimana udapan yang kumasak sendiri menjadi pengisi lunch time-ku. Di meja general manager ini. Sendiri.